jump to navigation

Psikologi Massa, Wacana Kolektif dan Perubahan Sosial July 28, 2010

Posted by taufandamanik in Uncategorized.
trackback

Membicarakan psikologi massa berarti membicarakan perilaku dan proses mental massa atau kolektif. Dalam konteks kepentingan analisa politik – membedakannya dengan kepentingan analisa psikologi sosial biasa – maka psikologi massa akan berhubungan collective behavior atau perilaku kolektif yang menjurus gerakan-gerakan sosial mau pun politik untuk mencapai perubahan-perubahan sosial-politik. Karena itu, pokok soalnya akan berhubungan dengan bagaimana psikologi massa terbentuk, baik yang hanya merupakan crowds atau pun mobs yang bersifat temporal dan insidental, namun tentu saja akan lebih fokus kepada gerakan yang bersifat permanen-relatif.

Meminjam Neil Smelser, ada paling tidak terdapat enam kondisi yang mungkin memunculkan perilaku kolektif. Pertama, struktur sosial yang kondusif memunculkan perilaku kolektif. Kedua, adanya ketegangan yang secara struktural terjadi di dalam masyarakat. Ketiga, adanya kepercayaan atau keyakinan bersama yang mendorong masyarakat melakukan tindakan bersama. Keempat, adanya peristiwa sebagai faktor pemicu munculnya perilaku kolektif. Kelima, adanya mobilisasi massa, dalam hal ini perilaku kolektif berarti digerakkan oleh pihak lain di luar massa atau yang memimpin massa. Keenam, adanya kegagalan kontrol sosial sehingga massa melakukan perilaku melawan aturan-aturan yang sudah baku.

Tentu saja, sebagaimana dijelaskan di atas, perlaku kolektif akan bervariasi, dari mulai yang berbentuk kerumunan temporer hingga gerakan solidaritas yang terorganisasikan dan ideologis. Namun, bila dikaitkan dengan analisa politik, maka psikologi massa yang mengarah kepada gerakan sosial yang terorganisasikan ini lah yang akan lebih menarik didiskusikan. Dalam konteks itu, ada banyak pendekatan teoritik yan bisa dipakai, dalam hal ini saya mencoba menukilkan paling tidak dua pendekatan, yang pada bagian akhir akan dihubungkan dengan bagaimana komunikasi politik memainkan peranannya di dalam membentuk psikologi massa.

Teori Marxis dan Post-Marxist/Discourse Theory

Adalah hal menarik membicarakan pemahaman yang lebih mendalam menyangkut perilaku kolektif dari pandangan teori wacana (discourse theory/Post Marxist) mau pun dalam kaca mata teori Marxis. Berbagai ahli menyebutkan bahwa tindakan kolektif selalu dimulai dengan adanya kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif dapat didekati dengan melihat wacana kolektif. Pertanyaannya, bagaimana proses pembentukan wacana kolektif, selanjutnya bagaimana pula wacana kolektif bisa membentuk tindakan kolektif serta akhirnya bisa membangun gerakan bersama atau gerakan sosial untuk perubahan ? Sementara perubahan, seringkali tidak bisa menghindar dari konflik, baik yang mengawali munculnya perubahan mau pun konflik yang berkepanjangan yang bahkan menghilangkan kemungkinan munculnya perubahan itu sendiri karena situasi politik yang terus-menerus tidak terkendali (chaotic conditions).

Teori tentang kesadaran kolektif tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pandangan Karl Marx yang menghubungkan kesadaran dengan penguasaan atas basis material, yang kemudian lebih khusus mengaitkannya dengan kelas sosial-ekonomi. Pembagian kelas mulai muncul manakala nilai surplus, dimana masyarakat “non-producers” hidup bergantung kepada pihak “producers”. Dengan begitu, Marx berpandangan bahwa siapa yang bisa mengontrol alat-alat produksi, maka mereka lah yang akan menjadi kelas penguasa di masyarakat tersebut. Karena sifat dari produksi menjadi eksploitatif, maka kedua kelas ini menjadi bersinggungan. Pembagian kelas semacam ini memicu konflik dan mendorong perjuangan kelas, yang oleh Marx disebut sebagai penggerak perkembangan sejarah.

Karena kelas pekerja kehilangan kontrol atas sistem produksi, maka mereka teralienasi dari tugas-tugas ketenagakerjaan; dari hasil produksi yang dijual di pasar oleh produsen, dari kalangan pekerja yang lain dan dari dimensi kemanusiaan manusia itu sendiri (species being). ”Species being” merujuk kepada dimensi yang membedakan manusia sebagai makhluk dengan binatang, yang digerakkan oleh instingnya sementara manusia tidak. Sebaliknya, manusia mampu beradaptasi terhadap lingkungan bahkan menguasainya dengan akal atau rasio yang dimiliki, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh binatang. Dengan begitu, manusia akan menjadi ”master” atau tuan (pengatur) atas lingkungannya secara aktif dan kreatif untuk bertahan hidup, menciptakan kreatifitas serta mampu mengendalikan keadaan-kedaan di sekitar dirinya yang secara intrinsik adalah bagian dari apa yang disebut manusia. Ketergantungan manusia kepada manusia lain (kelas pekerja, tani atau non-producers terhadap kapitalis) menyebabkan kemampuan membangun kesadaran diri menjadi dihilangkan. Dengan demikian, kesadaran manusia ditentukan pihak lain, yang justru menjadi ”master” atas dirinya. Sebaliknya, hakikat kemanusiaan dari kelompok kapitalis juga hilang karena keserahakan mereka untuk terus menguasai. Untuk menggambarkan hubungan-hubungan sosial seperrti ini, Marx menganalogikannya ke dalam suatu pernyataan yang sangat menarik, yakni ”binatang menjadi manusia dan manusia menjadi binatang”.

Marx menggambarkan bahwa kapitalisme akan berubah karena dua faktor. Pertama, faktor dari dalam karena kontradiksi di dalam sistem produksi akan menimbulkan ketidakstabilan. Masing-masing produsen akan melakukan ekspansi dan akumulasi kapital. Pada titik tertentu sebenarnya akan terjadi produk barang dan jasa akan mengalami sosialisasi karena satu sama lain unsur atau elemen masyarakat akan saling bergantung. Di sisi lain, ekspansi dan akumulasi – terutama penguasaan atas nilai lebih (surplus values) – akan menimbulkan sentralisasi kekuasaan ekonomi-politik.

Hal ini yang akan menyebabkan faktor kedua semakin meningkat, yakni perjuangan kelas karena kaum proletar merasa hidupnya semakin termarjinalisasi. Marjinalisasi atau proletarisasi mendorong kesadaran kelas kaum buruh atau buruh tani membangun kekuatan ideologi-politik melawan kelas kapitalis yang menguasai hampir seluruh kehidupan kemanusiaan mereka. Revolusi proletar akan dibangun melalui proses kesadaran kelas kaum buruh yang merasa ditindas, dimulai dengan langkah-langkah dimana kaum buruh membangun organisasi di tingkat lokal untuk merebut sektor ketenagakerjaan dan industri. Selanjutnya, akan memobilisasi gerakan lebih luas di tingkat nasional mau pun internasional.

Jadi, teori Marx jelas menggambarkan bahwa proses mental yang mendasari perilaku kolektif (yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif atau kesadaran kelas) mau pun yang kemudian bertransformasi menjadi kontradiksi kelas disebabkan oleh proletarisasi atau hilangnya basis-basis material yang menyebabkan kelas tertentu merasa senasib dan lebih jauh secara bersama-sama menginginkan perubahan. Dorongan perubahan yang terbangun tidak lagi sekedar di dalam bentuk-bentuk mobs atau crowds, tetapi tetapi terorganisasikan ke dalam gerakan-gerakan perjuangan politik-ideologis untuk mencapai cita-cita bersama, yakni masyarakat sosialisme. Dalam konteks ini, psikologi massa bukan lagi bersifat temporal, tetapi terstruktur rapi di dalam kesadaran ideologis untuk mencapai suatu cita-cita bersama, yakni bubarnya kapitalisme dan terbangunnya masyarakat sosialisme. Gerakan kolektif berarti bukan pula bersifat insidental yang didasari kesadaran yang keliru (false consciousness), namun berangkat dari kesadaran kelas yang dihasilkan bentuk-bentuk eksploitatif dari sistem produksi.

Berbeda dengan teori Marxis, teori wacana (Post Marxist theory) lebih memfokuskan perhatian kepada aspek-aspek non-material. Esnesto Laclau dan Chantal Mouffe mencoba membongkar bagaimana keterbelahan individu yang mengakibatkan tertutupnya identitas individu tersebut, selalu dipandang sebagai akibat dari individu lain yang menghalangi identitas mereka. Jadi, keberadaan identitas manusia selalu berada di dalam hubungan relasional dan bersifat kekuasaan. Wacana-wacana ideologi lain yang menghegemoni identitas diri dan karenanya mengancam eksistensi diri menimbulkan efek-efek keterbelahan dimana secara subjektif individu yang terhambat tersebut mencoba membangun logika pembedaan dan penyamaan (logic of difference and logic of equivalence). Logika penyamaan akan menemukan titik kebersamaan atau kesadaran kolektif dengan pihak lain yang juga mengalami hambatan identitas. Pada saat yang bersamaan, logika pembedaan akan menemukan garis pembatas politik (political frontiers) dengan wacana atau identitas lain yang berseberangan. Pada tahap ini, antagonisme sosial akan muncul, di mana musuh bersama, yakni pihak yang dianggap mengganggu eksistensi identitas kelompok akan terumuskan dengan lebih jelas. ”Kita” dan ”Mereka” dibatasi garis demarkasi politik yang tegas dan garis batas tersebut membentuk social myth mau pun social imaginary. Di sini persoalannya bukan lah seberapa objektif cita-cita diri bersama itu dirumuskan, tetapi yang lebih penting adalah seberapa masuk akal cita-cita itu mampu meyakinkan subjek-subjek untuk terus berada di dalam naungan wacana kolektif. Meminjam Gramsci, maka Laclau dan Mouffe menghubungkan dunia perwacanaan kolektif ini dengan issu hegemoni. Wacana yang secara subjektif menguasai kolektifitas akan bersifat hegemonik dan menjadi dasar gerak dari perilaku bersama.

Bila teori Marxis percaya adanya kesadaran kelas dan pertentangan kelas, maka Post-Marxist lebih memercayai kesadaran sosial bersama (social consiusness) yang bersifat temporal, contingent, dan historis. Teori Marxis percaya akan terbangun kekuatan terorganisir kelas tertindas melawan kelas penindas, sementara Post Marxist percaya bahwa kontradiksi atau antagonisme ini bersifat sosial dan fluktuatif. Konstruksi dan rekonstruksi sosial dibangun berdasarkan reaksi atas kepentingan momen-momen tertentu dan hanya membentuk alinasi-aliansi sosial temporer. Tidak mesti ada kelas tertentu (semacam kelas proletar) di dalam pergerakan sosial, tetap cukup dibangun di dalam cita-cita sosial bersama di dalam konteks issu-issu tertentu dan tentu saja bersifat dinamis serta relatif. Dinamika sosial bergerak seiring dengan kehendak manusia mempertahankan identitasnya. Sebaliknya, teori Marxis percaya pada suatu cita-cita permanen tentang masyarakat sosialisme di mana alur sejarah akan bergerak secara deterministik dan memiliki keteraturan.

Jika kita memakai teori Marxis di dalam menganalisa psikologi massa, maka pasti lah proses mental yang membentuk perilaku manusia (selain bersifat material) akan menuju suatu arah tertentu, yakni perubahan sosial menuju masyarakat sosialisme yang defenitif. Sementara teori Post Marxist, meski tetap menyetujui perjuangan sosialisme, tetapi percaya bahwa wacana sosialisme akan bersifat partikular sejalan dengan kebutuhan dan konteks masyarakat tertentu. Tidak ada yang universal, kecuali partikularitas itu sendiri. Generalitas akan menghilangkan dimensi-dimensi hakiki dari manusia karena itu social imaginary akan secara alamiah mengandung relatifisme. Meski begitu, kedua teori ini sama-sama mempercayai bahwa psikologi massa mesti lah mengarah kepada pembentukan kesadaran kolektif yang mendorong tindakan kolektif. Keduanya juga sepakat bahwa psikologi massa adalah proses mental dan perilaku kolektif yang ditujukan kepada gerakan-gerakan perubahan sosial, bukan yang bersifat insidental mau pun aksidental.

Penutup: Menggerakkan Psikologi Massa Melalui Komunikasi Politik

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa pada akhirnya kita membicarakan gerakan sosial, dalam rangka menciptakan perubahan sosial menuju masyarakat demokratis yang berkeadilan sosial. Psikologi massa menjadi penting karena gerakan bersama ini membutuhkan dukungan-dukungan kolektif. Komunikasi politik menjadi penting karena dengan jalan itu kesadaran bersama bisa dibangun.

Meminjam teori wacana Laclau dan Mouffe mau pun teoritisi kritis lainnya, persoalan penting yang tidak bisa diabaikan adalah bagaimana individu atau aktor melakukan konstruksi dan rekonstruksi atas realitas sosial yang dialaminya. Karena bahasa menjadi unsur penting di dalam artikulasi, maka kreatifitas aktor merumuskan dan mengemas ”wacana sosial-politik” yang akan ditawarkan merupakan titik awal munculnya kesadaran kolektif dan tindakan kolektif. Kreatifitas konstruksi dan rekonstruksi bersifat subjektif, yakni bagaimana persepsi aktor menafsirkan realitas sosial yang logis bagi kelompok atau massa untuk menggambarkan faktor-faktor yang menghambat identitas individu mau pun bersama, yang menciptakan penderitaan sosial bersama, yang mampu merefleksikan perasaan bersama.

Tentu saja, pada saat yang bersamaan aktor dengan kreatifitas artikulatifnya diharapkan mampu menghadirkan ”musuh bersama” yang dapat diyakini sebagai faktor eksternal yang menghambat identitas diri idnividu mau pun kelompok dan massa. Dari situ lah aktor dapat menghadirkan wacana-wacana bersama dalam bentuk mitos-mitos dan cita-cita kolektif, yang berhadapan dengan mitos-mitos dan cita-cita lawannya. Wacana-wacana yang di dalam praktek komunikasi dipertentangkan tersebut akan melahirkan solidaritas kolektif.

Tentu saja, aspek nilai-nilai individual dan kultural tidak bisa dipisahkan dari seluruh proses pembentukan kesadaran mental, demikian pula aspek historis baik individual mau pun kolektif. Mitos dan cita-cita seringkali adalah bentuk revitalisasi dari sejarah masa lalu, yang senantiasa melekat di dalam alam bawah sadar manusia. Sebaliknya, dengan menggunakan aspek individual-kultural mau pun historis, komunikasi politik sekaligus melakukan kritisisme terhadap wacana-wacana dominan yang ingin dilawan. Perwacanaan yang konfliktual, dalam pandangan ini, justru akan lebih memperkuat psikologi massa menuju tindakan kolektif. Tindakan kolektif tidak lagi bergantung kepada mobilisasi dan kepemimpinan, tetapi bergerak secara otomatis karena adanya dorongan kesadaran individual yang kuat. Setiap individu akan bergerak mencari peluang melakukan sesuatu yang dianggap penting untuk mendobrak suatu kebekuan sosial dan bertanggung jawab atas masing-masing tindakan (dalam batas-batas tertentu). Dengan demikian, aktor utama di dalam psikologi massa, tidak lebih bertindak sebagai inisiator, bukan aktor tunggal yang bekerja sendiri di dalam gerakan sosial.

Medan, 26 Nopember 2009

Kepustakaan

Geras, N, (2003), ‘Post Marxism ?’ in New Left Review

Giddens, A, (1982), Classes, Power, and Conflict, Classical and Contemporary Debates (Hampshire and London: The Macmillan Press Ltd.)

Habermas, J (2001), ‘Constitutional Democracy, A Paradoxical Union of Contradictory Principles ?’ in Political Theory, Vol. 29.

___________(1998), The Inclusion of the Other (Massachusetts: MIT Press)

Howarth, D. (1998), ‘Post-Marxism’ in Lent, A (ed) New Political Thought, An Introduction (London: Lawrence & Wishart Ltd)

__________ (2000), Discourse (Philadelphia: Open University Press)

Howarth, D, Norval, AJ and Stravrakakis, Y. (2000), Discourse Theory and Political Analysis, Identities (Manchester: Manchester University Press)

Laclau, E and Mouffe, C, (1985) Hegemony and Socialist Strategy, (London: Verso)

__________________, (1990) Post Marxism without Apologies (London: Verso)

Laclau, E, (1990), ‘Theory, Democracy and Socialism’, in Laclau, E (ed) New Reflections on the Revolution of Our Time (London: Verso)

________, (1992), Philosophical root of discourse theory (mimeo)

Luxemburg, R (2003), The Accumulation of Capital (London: Routledge)

Nimmo, Dan (1982), Komunikasi Politik, (Rosda: Bandung)

Ware, Alan (1987), Citizens, Parties and the State: A Reappraisal (Princeton University Press)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: