jump to navigation

Post-Marxisme Tanpa Apologi: Reformulasi Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe terhadap Teori Marxis July 27, 2010

Posted by taufandamanik in Uncategorized.
trackback

Pendahuluan
Di dalam buku mereka, Hegemony and Socialist Strategy, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (selanjutnya disebut L&M) menulis: ’Apa yang sekarang menjadi krisis adalah keseluruhan konsepsi sosialisme yang menyisakan sentralitas ontologis kelas pekerja, atas peran Revolusi, dengan huruh besar “r”, sebagai masa penemuan di dalam transisi dari satu bentuk masyarakat ke bentuk yang lain, dan atas prospek impian mengenai sebuah kesatuan yang sempurna dan kehendak kolektif yang homogen yang akan menyumbangkan ketidaadaan tujuan dari momen politik. Keragaman karakter perjuangan sosial kontemporer pada akhirnya membubarkan landasan akhir dari impian politis tersebut’ (L&M, HSS: hal.2).

Jadi, L&M ingin memusatkan perhatian pada kategori-kategori pewacanaan tertentu, yang pada pandangan pertama, tampil untuk diistimewakan terhadap hal-hal yang disarikan untuk banyak aspek krisis; dan mengurai makna yang mungkin dari sebuah sejarah di dalam berbagai segi pembelokan yang beragam ini.

Di dalam tulisannya sendiri, Philosophical roots of discourse theory, Laclau mengatakan bahwa teori diskursus, yang disusun di dalam pendekatan analisa politik dihubungkan dengan ide mengenai hegemoni, memiliki akarnya di dalam tiga perkembangan filsafat utama, yakni filsafat analitis, fenomenologi dan strukturalisme (Laclau: hal. 1)

Tujuan teori ini kemudian diserang secara kasar oleh Norman Geras (Post Marxism ?), karenanya Post-Marxism without Apologies ditulis untuk menangkis serangan Geras dan juga untuk mengklarifikasi konsep diskursus sebagai sebuah reformulasi dan sebuah kebangkitan projek sosialis dari tradisi Marxisme. L&M meletakkan reformulasi mereka didasarkan kepada hal-hal yang paling penting dari perubahan-perubahan sejarah yang terjadi di era ini.

Ada tiga aspek yang L&M ingin menjawab, yakni menyangkut pendekatan teoritis mereka, sejarah Marxisme serta issu-issu politik yang dijabarkan di dalam buku mereka sebelumnya.

Diskursus
L&M percaya bahwa sebuah perbedaan antara linguistik dan ekstra atau non-linguistik hanya ada di dalam pemikiran analitis; keduanya menyertakan sesuatu yang membolehkan keduanya untuk diperbandingkan, yakni fakta bahwa keduanya adalah bagian dari operasi keseluruhan. Jadi, diskursus adalah totalitas yang mengikutsertakan linguistik itu sendiri dan tindakan-tindakan non-linguistik pada sebuah sistem hubungan. Meski pun kita secara analitis bisa membedakan makna dari tindakan tetapi makna kata tergantung konteks menyeluruh. Makna itu sendiri adalah sesuatu yang secara sosial dibentuk.

Fakta-fakta alamiah juga merupakan fakta-fakta diskursif sebagai hasil dari sejarah yang kompleks dan lambat serta merupakan konstruksi sosial. Menyebut sesuatu sebagai objek alamiah adalah satu cara penyusunannya yang bergantung kepada sebuah sistem pengklasifikasian. Meski pun keberadaan alamiah masih tetap ada tanpa keberadaan manusia, tetapi manusia melalui ilmu mineralogi dan sebuah bahasa lah yang dapat mengklasifikasi objek alamiah dan membedakannya dari objek-objek yang lain. Meski pun begitu, konstruksi sosial dari objek alamiah atau dunia manusia selalu saja sulit dan tidak lengkap.

Di dalam menjawab tesis-tesis Herman Geras, L&M berpendapat bahwa sebagai seorang anggota dari masyarakat tertentu, kita akan selalu menemukan objek di dalam pengartikulasiannya bukan di dalam keberadaan telanjangnya (naked existence). Karenanya, terdapat satu perbedaan di antara kemenjadian (esse) dari sebuah objek yang bersifat historis dan entitas (ens) objek yang bukan. Mereka juga menjelaskan bahwa sebuah pewacanaan bukan lah sebuah objek, tetapi lebih sebagai sebuah horison teoritis. Kemudian karena perbedaan di antara kemenjadian dan keberadaan tidak lah penting, pertanyaan menyangkut pertentangan idealisme-materialisme juga di luar konteks. Menurut L&M, masalahnya lebih merupakan sebuah pertentangan idealisme-realisme.

Mereka menyimpulkan argumentasi sebagai berikut:
1. Pertentangan Idealisme/realisme berbeda dengan pertentangan idealisme/materialisme.
2. Idealisme klasik dan varian-varian wilayah materialisme dari sebuah essensialisme diletakkan pada reduksi dari yang nyata kepada bentuk.
3. Sebuah pergeseran dari idealisme tidak bisa ditemukan pada keberadaan objek, sebab tidak ada yang mengikuti keberadaan ini.
4. Sebuah gerak tertentu mesti ditemukan di dalam sebuah pelemahan sistematis dari bentuk, yang konsisten di dalam menunjukkan sejarah, bersifat fana dan membentuk karakter kemenjadian objek-objek; serta memperlihatkan bahwa hal ini akan bergantung kepada pengisian ulang kemenjadian tersebut di dalam kumpulan kondisi-kondisi keterhubungan yang membentuk kehidupan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
5. Di dalam proses ini, Marx menyusun satu poin transisi: di sisi lain, dia memperlihatkan bahwa makna dari setiap realitas manusia diambil dari sebuah dunia hubungan sosial yang jauh lebih luas yang sebelumnya telah dirasakan; tetapi di sisi lain, dia menyusun logika keterhubungan yang mengaitkan berbagai ranah yang jelas bersifat essensialis atau idealitik (L&M, Post-Marxism without Apologies: hal. 111-112)

Kembali, disebabkan kekurangan ini, L&M percaya bahwa kita bisa mereformulasikan program materialis ke dalam suatu cara yang jauh lebih radikal dibandingkan yang mungkin dilakukan oleh Marx.

Reformulasi dan revitalisasi Marxisme
Sebagaimana tujuan utama buku HSS seperti yang disebutkan di atas, L&M mengkritisi determinisme ekonomi Marxisme sebagai sebuah konsep yang tidak lengkap dan percaya bahwa gerakan anti-kapitalis tidak hanya merupakan sebuah hasil dari pertentangan di antara hubungan buruh-modal. Terdapat berbagai alternatif yang luas menyangkut pertentangan. Juga berbeda dengan Rosa Luxemburg yang menggambarkan aksi massa sebagai hasil pertentangan kelas (kesatuan di antara perjuangan ekonomi dan perjuangan kelas politik), L&M berpendapat bahwa pertentangan terbentuk di antara hubungan produksi dan sesuatu di luar itu. Pola dan intensitas pertentangan tergantung, karena itu, kepada sesuatu yang lebih luas, di mana aktor sosial dibentuk di luar hubungan-hubungan produksi. Jadi, kemungkinan memperdalam perjuangan anti-kapitalis itu sendiri bergantung kepada hal-hal di luar revolusi demokratik.

Konsekuensinya, pertama, tidak ada tempat dan peran istimewa di dalam perjuangan anti-kapitalis. Visi Internasional Kedua – ide sentralitas kelas pekerja – telah bubar dan akan menuju kepada peningkatan penderitaan sosial (social misery) – untuk mengatakan, kontradiksi di antara sistem kapitalis sebagai suatu keseluruhan dan populasi massa yang amat banyak. Juga visi krisis kapitalisme yang akan menghasilkan suatu pertikaian di antara kapitalis dan buruh belum terjadi. Kedua, konsekuensinya adalah bahwa kemunculan suatu politik anti-kapitalis yang potensial melalui pendalaman revolusi demokratik, akan dihasilkan dari keputusan-keputusan politik global yang diambil oleh sektor-sektor populasi yang amat banyak dan tidak akan dikaitkan dengan suatu posisi yang khusus di dalam struktur sosial. Dalam hal ini, tidak ada perjuangan yang secara instrinsik merupakan perjuangan anti-kapitalis, meski pun suatu rangkaian perjuangan di dalam konteks-konteks tertentu dapat menjadi anti-kapitalis (L&M: hal. 127).

Bergantung kepada hal apa dan mengandung apa revolusi demokratik itu ? Menurut L&M, Marx secara benar mengamati bahwa kapitalisme hanya berkembang luas melalui perubahan-peruabahan permanen dari alat-alat produksi serta keterlepasan (dislocation) dan pembubaran progresif hubungan-hubungan tradisional. Instabilitas yang radikal serta ancaman terhadap identitas-identitas sosial yang diakibatkan oleh ekspansi kapitalis sungguh-sungguh membawa bentuk baru dari impian kolektif yang merekonstruksi identitas-identitas yang terancam tersebut ke dalam sebuah jalan baru yang mendasar. Tesis L&M adalah bahwa diskursus-diskursus egaliter serta diskursus-diskursus kanan memainkan sebuah peran yang mendasar di dalam rekonstruksi identitas kolektif. Dengan membandingkan perluasan ide revolusi Perancis, dari ruang publik kepada ruang privat, L&M bermaksud memperluas fokus gerakan anti-kapitalis kepada sebuah gerakan sosial disebabkan perkembangan perjuangan buruh dan perjuangan anti-kapitalis. Meski hal ini merupakan sebuah momen penting di masa abad sembilan belas, ini bukan satu-satunya dan yang terakhir. Apalagi, pada beberapa dekade terakhir, peningkatan produktifitas buruh dan keberhasilan perjuangan mereka telah menimbulkan akibat yang terkombinasikan dimana buruh berhenti menjadi “proletar’ dan berubah menjadi “warga negara”, di mana mereka dapat berpatisipasi di dalam suatu perkembangan beragam aspek kehidupan negeri mereka (penyebaran posisi-posisi subjek)

Di dalam rangka memelihara revolusi demokratik, kita harus mempertahankan dan mengkonsolidasi prinsip-prinsip dasar, seperti pembagian kekuasaan, hak-hak dasar politik yang universal, sistem multi partai, hak-hak sispil dan lain-lain (konsolidasi dan reformasi demokratik negara liberal) dan sebaliknya menghindari totalitarianisme. Impian demokrasi radikal mensyaratkan keterbukaan dan pluralisme.

Berbeda dengan Marxis tradisional seperti Geras yang percaya bahwa hubungan antara sosialisme dan demokrasi bersifat aksiomatis (sudah dapat dipastikan kebenarannya), L&M melihat hubungan ini sebagai sebuah projek politik yang mesti diperjuangkan. Melalui penolakan prasangka-prasangka masa lalu dan penolakan teori-teori yang menghadirkan mereka sebagai kebenaran absolut sejarah, kita dapat membentuk diskursus-diskursus emansipatoris baru, lebih manusiawi, lebih beragam dan demokratis. Ambisi eskatologis dan epistemologis lebih rendah hati, tetapi pembebasan aspirasi menjadi lebih luas dan lebih mendalam.

Sebagai catatan akhir, L&M menunjukkan tiga poin mendasar mengapa mereka perlu bergerak melebihi titik pandang teoritis dan politis dari Marxisme:
‘Yang pertama adalah hal filosofis yang berhubungan dengan karakter parsial “materialisme” dari Marx, kepada ketergantungan yang berbeda dari aspek-aspek penting menyangkut kategori-kategori metafisik tradisional. Dalam hal ini, sebagaimana kita telah coba perlihatkan, teori diskursus tidak hanya sekedar sebuah teoritis yang sederhana atau pendekatan epistemologis; hal ini menyatakan, melalui penegasan kesejarahan yang radikal dari kemenjadian dan karena itu alam kebenaran manusia yang murni, komitmen menunjukkan dunia apa adanya: sebuah konstruksi sosial manusia yang menyeluruh yang tidak didasarkan kepada setiap metafisik ‘keharusan/necessity” di luarnya – tidak Tuhan, tidak pula “bentuk-bentuk essensial”, bukan pula “hukum-hukum keharusan sejarah”.

Kedua, analisis sosial teori Marxis yang didasarkan kepada pengalaman bangsa Eropa abad 19 mempunyai kecenderungan-kecenderungan yang berbeda secara mendasar di dalam perkembangan diri kapitalisme dan antagonisme yang sedang kita hadapi sekarang. Hari ini kita tahu bahwa dampak-dampak ketercampakan yang dihasilkan kapitalisme di tingkat internasional jauh lebih dalam dibandingkan yang disaksikan Marx dulu. Jadi, kita harus meradikalisasi dan merubah arah yang diberikan Marx mengenai konsep pelaku sosial dan pertentangan sosial.

Ketiga, adalah aspek politik dengan menempatkan sosialisme di lahan revolusi demokratik yang lebih luas. Jadi, lahan konflik sosial diperluas, bukan dikonsentrasikan kepada suatu “pelaku intemewa” dari perubahan sosial. Ini juga berarti bahwa perluasan dan radikalisasi perjuangan demokrasi tidak memiliki satu titik kedatangan yang final di dalam pencapaian sebuah masyarakat yang terbebaskan. Akan selalu saja terdapat pertentangan, perjuangan, dan keburaman sosial yang parsial (partial opaqueness of the social); akan selalu ada sejarah’ (L&M: hal. 129-130)

Bibliography
Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Post Marxism without Apologies, London: Verso, 1990
_______Post-Marxisme Tanpa Apologi-apologi: Reformulasi Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe terhadap Teori Marxis
Ahmad Taufan Damanik

Pendahuluan
Di dalam buku mereka, Hegemony and Socialist Strategy, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe (selanjutnya disebut L&M) menulis: ’Apa yang sekarang menjadi krisis adalah keseluruhan konsepsi sosialisme yang menyisakan sentralitas ontologis kelas pekerja, atas peran Revolusi, dengan huruh besar “r”, sebagai masa penemuan di dalam transisi dari satu bentuk masyarakat ke bentuk yang lain, dan atas prospek impian mengenai sebuah kesatuan yang sempurna dan kehendak kolektif yang homogen yang akan menyumbangkan ketidaadaan tujuan dari momen politik. Keragaman karakter perjuangan sosial kontemporer pada akhirnya membubarkan landasan akhir dari impian politis tersebut’ (L&M, HSS: hal.2).

Jadi, L&M ingin memusatkan perhatian pada kategori-kategori pewacanaan tertentu, yang pada pandangan pertama, tampil untuk diistimewakan terhadap hal-hal yang disarikan untuk banyak aspek krisis; dan mengurai makna yang mungkin dari sebuah sejarah di dalam berbagai segi pembelokan yang beragam ini.

Di dalam tulisannya sendiri, Philosophical roots of discourse theory, Laclau mengatakan bahwa teori diskursus, yang disusun di dalam pendekatan analisa politik dihubungkan dengan ide mengenai hegemoni, memiliki akarnya di dalam tiga perkembangan filsafat utama, yakni filsafat analitis, fenomenologi dan strukturalisme (Laclau: hal. 1)

Tujuan teori ini kemudian diserang secara kasar oleh Norman Geras (Post Marxism ?), karenanya Post-Marxism without Apologies ditulis untuk menangkis serangan Geras dan juga untuk mengklarifikasi konsep diskursus sebagai sebuah reformulasi dan sebuah kebangkitan projek sosialis dari tradisi Marxisme. L&M meletakkan reformulasi mereka didasarkan kepada hal-hal yang paling penting dari perubahan-perubahan sejarah yang terjadi di era ini.

Ada tiga aspek yang L&M ingin menjawab, yakni menyangkut pendekatan teoritis mereka, sejarah Marxisme serta issu-issu politik yang dijabarkan di dalam buku mereka sebelumnya.

Diskursus
L&M percaya bahwa sebuah perbedaan antara linguistik dan ekstra atau non-linguistik hanya ada di dalam pemikiran analitis; keduanya menyertakan sesuatu yang membolehkan keduanya untuk diperbandingkan, yakni fakta bahwa keduanya adalah bagian dari operasi keseluruhan. Jadi, diskursus adalah totalitas yang mengikutsertakan linguistik itu sendiri dan tindakan-tindakan non-linguistik pada sebuah sistem hubungan. Meski pun kita secara analitis bisa membedakan makna dari tindakan tetapi makna kata tergantung konteks menyeluruh. Makna itu sendiri adalah sesuatu yang secara sosial dibentuk.

Fakta-fakta alamiah juga merupakan fakta-fakta diskursif sebagai hasil dari sejarah yang kompleks dan lambat serta merupakan konstruksi sosial. Menyebut sesuatu sebagai objek alamiah adalah satu cara penyusunannya yang bergantung kepada sebuah sistem pengklasifikasian. Meski pun keberadaan alamiah masih tetap ada tanpa keberadaan manusia, tetapi manusia melalui ilmu mineralogi dan sebuah bahasa lah yang dapat mengklasifikasi objek alamiah dan membedakannya dari objek-objek yang lain. Meski pun begitu, konstruksi sosial dari objek alamiah atau dunia manusia selalu saja sulit dan tidak lengkap.

Di dalam menjawab tesis-tesis Herman Geras, L&M berpendapat bahwa sebagai seorang anggota dari masyarakat tertentu, kita akan selalu menemukan objek di dalam pengartikulasiannya bukan di dalam keberadaan telanjangnya (naked existence). Karenanya, terdapat satu perbedaan di antara kemenjadian (esse) dari sebuah objek yang bersifat historis dan entitas (ens) objek yang bukan. Mereka juga menjelaskan bahwa sebuah pewacanaan bukan lah sebuah objek, tetapi lebih sebagai sebuah horison teoritis. Kemudian karena perbedaan di antara kemenjadian dan keberadaan tidak lah penting, pertanyaan menyangkut pertentangan idealisme-materialisme juga di luar konteks. Menurut L&M, masalahnya lebih merupakan sebuah pertentangan idealisme-realisme.

Mereka menyimpulkan argumentasi sebagai berikut:
1. Pertentangan Idealisme/realisme berbeda dengan pertentangan idealisme/materialisme.
2. Idealisme klasik dan varian-varian wilayah materialisme dari sebuah essensialisme diletakkan pada reduksi dari yang nyata kepada bentuk.
3. Sebuah pergeseran dari idealisme tidak bisa ditemukan pada keberadaan objek, sebab tidak ada yang mengikuti keberadaan ini.
4. Sebuah gerak tertentu mesti ditemukan di dalam sebuah pelemahan sistematis dari bentuk, yang konsisten di dalam menunjukkan sejarah, bersifat fana dan membentuk karakter kemenjadian objek-objek; serta memperlihatkan bahwa hal ini akan bergantung kepada pengisian ulang kemenjadian tersebut di dalam kumpulan kondisi-kondisi keterhubungan yang membentuk kehidupan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
5. Di dalam proses ini, Marx menyusun satu poin transisi: di sisi lain, dia memperlihatkan bahwa makna dari setiap realitas manusia diambil dari sebuah dunia hubungan sosial yang jauh lebih luas yang sebelumnya telah dirasakan; tetapi di sisi lain, dia menyusun logika keterhubungan yang mengaitkan berbagai ranah yang jelas bersifat essensialis atau idealitik (L&M, Post-Marxism without Apologies: hal. 111-112)

Kembali, disebabkan kekurangan ini, L&M percaya bahwa kita bisa mereformulasikan program materialis ke dalam suatu cara yang jauh lebih radikal dibandingkan yang mungkin dilakukan oleh Marx.

Reformulasi dan revitalisasi Marxisme
Sebagaimana tujuan utama buku HSS seperti yang disebutkan di atas, L&M mengkritisi determinisme ekonomi Marxisme sebagai sebuah konsep yang tidak lengkap dan percaya bahwa gerakan anti-kapitalis tidak hanya merupakan sebuah hasil dari pertentangan di antara hubungan buruh-modal. Terdapat berbagai alternatif yang luas menyangkut pertentangan. Juga berbeda dengan Rosa Luxemburg yang menggambarkan aksi massa sebagai hasil pertentangan kelas (kesatuan di antara perjuangan ekonomi dan perjuangan kelas politik), L&M berpendapat bahwa pertentangan terbentuk di antara hubungan produksi dan sesuatu di luar itu. Pola dan intensitas pertentangan tergantung, karena itu, kepada sesuatu yang lebih luas, di mana aktor sosial dibentuk di luar hubungan-hubungan produksi. Jadi, kemungkinan memperdalam perjuangan anti-kapitalis itu sendiri bergantung kepada hal-hal di luar revolusi demokratik.

Konsekuensinya, pertama, tidak ada tempat dan peran istimewa di dalam perjuangan anti-kapitalis. Visi Internasional Kedua – ide sentralitas kelas pekerja – telah bubar dan akan menuju kepada peningkatan penderitaan sosial (social misery) – untuk mengatakan, kontradiksi di antara sistem kapitalis sebagai suatu keseluruhan dan populasi massa yang amat banyak. Juga visi krisis kapitalisme yang akan menghasilkan suatu pertikaian di antara kapitalis dan buruh belum terjadi. Kedua, konsekuensinya adalah bahwa kemunculan suatu politik anti-kapitalis yang potensial melalui pendalaman revolusi demokratik, akan dihasilkan dari keputusan-keputusan politik global yang diambil oleh sektor-sektor populasi yang amat banyak dan tidak akan dikaitkan dengan suatu posisi yang khusus di dalam struktur sosial. Dalam hal ini, tidak ada perjuangan yang secara instrinsik merupakan perjuangan anti-kapitalis, meski pun suatu rangkaian perjuangan di dalam konteks-konteks tertentu dapat menjadi anti-kapitalis (L&M: hal. 127).

Bergantung kepada hal apa dan mengandung apa revolusi demokratik itu ? Menurut L&M, Marx secara benar mengamati bahwa kapitalisme hanya berkembang luas melalui perubahan-peruabahan permanen dari alat-alat produksi serta keterlepasan (dislocation) dan pembubaran progresif hubungan-hubungan tradisional. Instabilitas yang radikal serta ancaman terhadap identitas-identitas sosial yang diakibatkan oleh ekspansi kapitalis sungguh-sungguh membawa bentuk baru dari impian kolektif yang merekonstruksi identitas-identitas yang terancam tersebut ke dalam sebuah jalan baru yang mendasar. Tesis L&M adalah bahwa diskursus-diskursus egaliter serta diskursus-diskursus kanan memainkan sebuah peran yang mendasar di dalam rekonstruksi identitas kolektif. Dengan membandingkan perluasan ide revolusi Perancis, dari ruang publik kepada ruang privat, L&M bermaksud memperluas fokus gerakan anti-kapitalis kepada sebuah gerakan sosial disebabkan perkembangan perjuangan buruh dan perjuangan anti-kapitalis. Meski hal ini merupakan sebuah momen penting di masa abad sembilan belas, ini bukan satu-satunya dan yang terakhir. Apalagi, pada beberapa dekade terakhir, peningkatan produktifitas buruh dan keberhasilan perjuangan mereka telah menimbulkan akibat yang terkombinasikan dimana buruh berhenti menjadi “proletar’ dan berubah menjadi “warga negara”, di mana mereka dapat berpatisipasi di dalam suatu perkembangan beragam aspek kehidupan negeri mereka (penyebaran posisi-posisi subjek)

Di dalam rangka memelihara revolusi demokratik, kita harus mempertahankan dan mengkonsolidasi prinsip-prinsip dasar, seperti pembagian kekuasaan, hak-hak dasar politik yang universal, sistem multi partai, hak-hak sispil dan lain-lain (konsolidasi dan reformasi demokratik negara liberal) dan sebaliknya menghindari totalitarianisme. Impian demokrasi radikal mensyaratkan keterbukaan dan pluralisme.

Berbeda dengan Marxis tradisional seperti Geras yang percaya bahwa hubungan antara sosialisme dan demokrasi bersifat aksiomatis (sudah dapat dipastikan kebenarannya), L&M melihat hubungan ini sebagai sebuah projek politik yang mesti diperjuangkan. Melalui penolakan prasangka-prasangka masa lalu dan penolakan teori-teori yang menghadirkan mereka sebagai kebenaran absolut sejarah, kita dapat membentuk diskursus-diskursus emansipatoris baru, lebih manusiawi, lebih beragam dan demokratis. Ambisi eskatologis dan epistemologis lebih rendah hati, tetapi pembebasan aspirasi menjadi lebih luas dan lebih mendalam.

Sebagai catatan akhir, L&M menunjukkan tiga poin mendasar mengapa mereka perlu bergerak melebihi titik pandang teoritis dan politis dari Marxisme:
‘Yang pertama adalah hal filosofis yang berhubungan dengan karakter parsial “materialisme” dari Marx, kepada ketergantungan yang berbeda dari aspek-aspek penting menyangkut kategori-kategori metafisik tradisional. Dalam hal ini, sebagaimana kita telah coba perlihatkan, teori diskursus tidak hanya sekedar sebuah teoritis yang sederhana atau pendekatan epistemologis; hal ini menyatakan, melalui penegasan kesejarahan yang radikal dari kemenjadian dan karena itu alam kebenaran manusia yang murni, komitmen menunjukkan dunia apa adanya: sebuah konstruksi sosial manusia yang menyeluruh yang tidak didasarkan kepada setiap metafisik ‘keharusan/necessity” di luarnya – tidak Tuhan, tidak pula “bentuk-bentuk essensial”, bukan pula “hukum-hukum keharusan sejarah”.

Kedua, analisis sosial teori Marxis yang didasarkan kepada pengalaman bangsa Eropa abad 19 mempunyai kecenderungan-kecenderungan yang berbeda secara mendasar di dalam perkembangan diri kapitalisme dan antagonisme yang sedang kita hadapi sekarang. Hari ini kita tahu bahwa dampak-dampak ketercampakan yang dihasilkan kapitalisme di tingkat internasional jauh lebih dalam dibandingkan yang disaksikan Marx dulu. Jadi, kita harus meradikalisasi dan merubah arah yang diberikan Marx mengenai konsep pelaku sosial dan pertentangan sosial.

Ketiga, adalah aspek politik dengan menempatkan sosialisme di lahan revolusi demokratik yang lebih luas. Jadi, lahan konflik sosial diperluas, bukan dikonsentrasikan kepada suatu “pelaku intemewa” dari perubahan sosial. Ini juga berarti bahwa perluasan dan radikalisasi perjuangan demokrasi tidak memiliki satu titik kedatangan yang final di dalam pencapaian sebuah masyarakat yang terbebaskan. Akan selalu saja terdapat pertentangan, perjuangan, dan keburaman sosial yang parsial (partial opaqueness of the social); akan selalu ada sejarah’ (L&M: hal. 129-130)

Bibliography
Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Post Marxism without Apologies, London: Verso, 1990
_________________________________, Hegemony and Socialist Strategy, London: Verso, 1985
Ernesto Laclau, Philosophical root of discourse theory
Norman Geras, Post Marxism ?, New Left Review, 2003

__________________________, Hegemony and Socialist Strategy, London: Verso, 1985
Ernesto Laclau, Philosophical root of discourse theory
Norman Geras, Post Marxism ?, New Left Review, 2003

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: