jump to navigation

Menilai Hermenetika Charles Taylor dengan Mempertimbangkan Kritik Habermas terhadap Hermenetika July 27, 2010

Posted by taufandamanik in Uncategorized.
trackback

Sebagai seorang ilmuan sosial yang telah memiliki pengalaman panjang baik dalam teori mau pun praktek, Charles Taylor mempunyai sebuah kekuatiran besar terhadap modernitas dan hubungannya dengan perkembangan ilmu sosial mau pun filsafat Barat. Suatu kali, dia menulis sebuah artikel tentang Tiga Malaise, tercatat baik di dalam bukunya, The Ethics of Authenticity. Ketiga malaise modernitas tersebut yakni, kekuatiran terhadap individualisme, kekuatiran terhadap pemikiran instrumental dan kekuatiran terhadap lembaga-lembaga dan struktur-struktur masyarakat industrial-teknologis yang membatasi pilihan-pilihan kita. Yang terakhir merupakan suatu konsekuensi dari dua kekuatiran sebelumnya (Taylor, 1991: hal.1-10).

Kegelisahan ini mendorong Taylor untuk tidak hanya mengkritisi filsafat Barat dan ilmu sosial modern, tetapi juga menginspirasinya untuk merekonstruksi sebuah pendekatan baru yang ia kira akan membuat kehidupan sosial difahami dengan lebih baik dan lebih jelas. Dalam hal ini, Taylor memulai kajiannya dengan menawarkan kritik-kritik tajam terhadap filsafat Barat-modern dan ilmu sosial yang ia anggap  gagal memahami manusia yang selalu dijadikan objek untuk diobservasi, dijelaskan dan diprediksikan secara eksploitatif melalui kekuatan ide atau pemikiran dan kemudian menggambarkan manusia di dalam penggunaan bahasa ilmiah. Pendekatan ini menafikan manusia sebagai pelaku yang sepenuhnya mampu dan memiliki dinamika serta penafsiran mereka sendiri yang didasarkan pada rujukan-rujuan kebudayaan mereka.

Untuk tujuan tersebut, Taylor memperkenalkan sebuah cara yang lebih mendasar yakni filsafat bahasa. Sebab jika kita memandang kehidupan manusia dibentuk oleh pemahaman diri, maka menurut Taylor, filsafat bahasa akan memiliki peran pokok. Meski pun jelas, konsepsi bahasa dalam filsafat hermenetika akan berbeda dengan pandangan kaum naturalis. Filsafat hermenetika akan mendiskusikan bahasa di dalam teori-teori makna, yang dengan konsepsi ini filsafat hermenetika pada akhirnya mampu menyajikan kehadiran manusia lebih berwarna dan lebih mendekati realitas dibandingkan apa yang digambarkan filsafat naturalisme.

Oleh karena itu, tulisan ini – dengan meminjam kritik-kritik Habermas terhadap hermenetika  – akan mencoba menilai pemikiran Taylor. Saya akan memulai dari bagaimana Taylor menyusun ide tentang seorang manusia, bahasa dan ilmu sosial secara komprehensif. Ini tentu saja tidak akan melupakan pemikiran Taylor mengenai filsafat manusia, bahasa dan dampak lain dari epistemologi dan ontologi ilmu sosial. Pemikiran Taylor mengenai bahasa, manusia dan masyarakat dimulai dari kritiknya terhadap kecenderungan natularisme yang sangat banyak meminjam dari ilmu pengetahuan alam.   Sebaliknya, Taylor datang dengan filsafat dan metode-metode baru. Berkenaan dengan implikasi kritik Taylor terhadap ilmu politik, tulisan ini juga akan mendiskusikan bagaimana sumbangan Taylor terhadap perkembangan teori politik kontemporer.

Cara ini penting untuk membicarakan seberapa jauh sintesa pemikiran Taylor meyakinkan kita mengenai suatu pendekatan baru di dalam ilmu sosial, khususnya ilmu politik. Meski pun pandangan baru ini lebih tepat disebut sebagai sebuah alternatif bagi ilmu sosial dan juga ilmu politik. Lebih jauh, saya akan menawarkan pendedahan dan memajukan kritik dengan meminjam kritik Habermas, guna memperlihatkan sisi kelemahan pandangan Taylor dan merupakan bagian yang harus ditingkatkan.

Esensi Ilmu Hermenetika Taylor

Sebagaimana saya sebutkan di atas, Taylor mengkritisi naturalisme yang memandang dunia manusia sebagai bagian dunia fisik. Naturalisme – dengan tradisi reduksi mereka – menghindar dari mengenali aspek-aspek kehidupan manusia yang penting dan pokok. Ambisi mereka membuat model studi tentang manusia berdasarkan cara berfikir ilmu-ilmu alam mengakibatkan kegagalan menemukan jawaban mengenai pertanyaan penting dari kehidupan dan tindakan manusia serta membuang lebih banyak lagi energi untuk mempertahankan diri dari serangan dan tuduhan menyangkut irrelevansi. Jadi, mereka kehilangan kemanjuran untuk menemukan “significance”, fakta bahwa kita adalah manusia yakni kepada siapa segala sesuatu dipersembahkan, meski pun mereka kemudian menggunakan suatu model yang didasarkan kepada komputer digital untuk memperkaya pendekatan mereka.[1]

Projek hermenetika yang diinginkan Taylor pada dasarnya merujuk kepada pemikiran Aristoteles mengenai manusia sebagai binatang-rasional berbahasa (zoon ekhon logon) atau sebagaimana pandangan periode Romawi tentang manusia. Pemikirannya mengkritik aliran Locke atau kecenderungan-kecenderungan lain dari abad Pencerahan (Renaissance), yakni instrumentalitas bahasa yang merupakan instrumen utama untuk membangun gambaran kita mengenai dunia. Kemudian Taylor mengusulkan sebuah jalan baru di dalam menteoritisasi bahasa. Menurutnya, sebuah bahasa bukan lah semata-mata alat intelektual di dalam menggambarkan dunia atau mengkonseptualisasikan kehidupan manusia. Tetapi sebuah bahasa juga digunakan untuk sebuah definisi mengenai siapa manusia itu. Di sini, terdapat sebuah kombinasi di antara penciptaan dan penemuan di mana kita sedang berjuang menemukan sebuah bahasa untuk memahami dan memediasi perbedaan-perbedaan budaya (Taylor, 1995: hal. ix-xii).

Dengan kata lain, teori ini mengatakan bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk menggambarkan dunia, tetapi lebih jauh bahasa juga membantu membentuk kehidupan kita. Dalam pemikiran ini, ilmu hermenetika Taylor akan menggambarkan bagaimana bahasa turut mengartikulasikan dan membuat benda-benda menjadi nyata serta membantu menyusun bentuk kehidupan kita. Sebaliknya, dengan teori-teori yang memandang bahasa sebagai sebuah instrumen, membuatnya menjadi  benar dan memuaskan penanda (signifiers), bahasa di dalam pandangan ini membenarkan setiap hubungan dengan realitas di luar teks guna melayani, seperti kunci kita memahami realitas. Jadi, teks tidak hanya teks itu sendiri tetapi ada sesuatu yang melebihi darinya di luar teks yang kita harus perhitungkan dan jelaskan (Taylor, 1985, Philosophy and The Human Sciences, Philosophical Papers 2: hal. 10-11).

Sebagai binatang rasional dengan bahasa, Taylor percaya bahwa manusia memiliki satu kemampuan interpretasi diri. Taylor menjelaskan bahwa ‘penafsiran, yang berhubungan dengan hermenetika, adalah satu upaya memperjelas, membuatnya dapat dimengerti, mengenai sebuah objek studi dan objek harus lah sebuah teks atau sebuah teks-analog’. Lebih jauh, dia mengatakan bahwa ‘penafsiran bertujuan memperjelas sebuah hubungan mendasar atau pemikiran’ (Taylor, Ibid: hal. 15). Kesimpulannya, Taylor kembali mengatakan bahwa ‘objek sebuah ilmu pengetahuan penafsiran harus memiliki: pemikiran, yang dapat dipisahkan dari ekspresinya, untuk atau oleh subjek’ (Taylor, 1985, Ibid: hal.17).

Dia kemudian mencoba menawarkan kriteria penilaian di dalam ilmu hermenetika:

‘Suatu penafsiran yang berhasil adalah sesuatu yang memperjelas makna yang pada awalnya hadir di dalam sebuah bentuk yang rancu, terpecah dan berkabut. Tetapi bagaimana seseorang tahu bahwa penafsirannya benar ? Agaknya, karena penafsiran tersebut membuat teks aslinya dapat dimengerti: apa yang aneh, membingungkan, menimbulkan teka-teki, kontradiktif tidak lagi terjadi’ (Taylor, 1985, Ibid: hal. 17)

Di dalam rangka mengatasi kesulitan-kesulitan, makna harus diekspresikan di dalam satu cara baru atau melalui pembacaan-pembacaan yang lain, dimana ekspresi-ekspresi hanya dapat difahami atau tidak di dalam hubungannya dengan yang lain. Pembacaan-pembacaan ekspresi parsial tergantung kepada hubungan-hubungan dengan yang lain dan akhirnya dengan keseluruhan (Taylor, 1985, Ibid: hal. 17).

Lebih lengkap, Taylor mengatakan:

‘Apa yang sedang kita coba bangun adalah sebuah pembacaan tertentu dari teks atau ekspresi dan apa yang kita serukan sebagai dasar kita melakukan pembacaan hanya bisa disebut sebagai pembacaan yang lain. Lingkaran hanya bisa diletakkan di dalam hubungan-hubungan bagiannya: kita sedang mencoba membangun sebuah pembacaan untuk keseluruhan teks dan untuk hal ini kita menyerukan ekspresi-ekspresi parsialnya; dan karena kita berhubungan dengan makna, untuk dapat dimengerti, dimana ekspresi-ekspresi hanya terjadi atau tidak terjadi di dalam hubungannya dengan yang lain, maka pembacaan ekspresi parsial tergantung kepada hubungan-hubungan dengan yang lain tersebut.’(Taylor, 1985, Ibid: hal.18)

Manakala Taylor membicarakan “makna” dari sebuah keadaan sulit yang sudah terjadi, dia menggunakan sebuah konsep sebagai berikut:

‘(1). Makna adalah untuk subjek: ini bukan lah makna dari suatu situasi kosong (in vacuo) tetapi makna untuk suatu subjek, suatu subjek yang khas, suatu kelompok subjek, atau barangkali apa yang menjadi makna bagi subjek manusia tertentu (meski pun manusia tertentu dapat dicela dengan tidak mengakui atau menyadarinya). (2). Makna adalah sesuatu; yakni kita bisa bedakan antara sebuah elemen yang sudah terjadi – situasi, tindakan, atau apa pun – dan maknanya’ (Taylor, 1985, Ibid: hal.22)

selanjutnya

‘(3). Benda-benda hanya memiliki makna di dalam sebuah wahana, yakni di dalam hubungan makna tersebut dengan benda-benda lain. Artinya bahwa tidak ada satu benda tertentu yang tunggal, elemen penuh makna yang tidak terhubungkan; dan ini berarti bahwa perubahan-perubahan di dalam makna-makna yang lain dapat menyertakan perubahan-perubahan di dalam elemen yang telah terjadi’. (Taylor, 1985, Ibid: hal.22)

Jadi, makna di dalam pemikiran ini dapat disebut sebagai sebuah makna eksperiensial (telah diujicobakan/dialami), sehingga berarti makna tersebut untuk suatu subjek, mengenai sesuatu, di dalam sebuah wadah. Berbeda dengan makna linguistik, makna ini memiliki dua dimensi lain: makna dari penanda dan ini mengenai suatu dunia rujukan. Untuk memahami konsep-konsep ini kita harus berada di dalam sebuah pengalaman tertentu, kita harus memahami bahasa tertentu, tidak hanya kata demi kata, tetapi juga sebuah bahasa dari tindakan timbal-balik dan komunikasi tertentu, yang dengannya kita menyalahkan, mendesak, mengagumi dan menghargai satu sama lain (Taylor, 1985, Ibid: hal. 23).

Untuk menjelaskan makna yang dialami, Taylor menjelaskan pentingnya konsep impor. Dia mengatakan bahwa impor adalah suatu dasar perasaan kita, suatu cara yang dengannya sesuatu dapat menjadi relevan atau penting bagi hasrat-hasrat dan tujuan-tujuan atau aspirasi-aspirasi perasaan suatu subjek (Taylor, 1985, Ibid: hal. 48).

Dia kemudian meneruskan konsep ini sebagai berikut:

‘…bahwa mengalami sebuah emosi yang telah terjadi menyertakan situasi pengalaman kita sebagai pembawa suatu impor tertentu, di mana anggapan tentang impor tidak cukup hanya bahwa saya merasakan cara ini, tetapi lebih bahwa impor tersebut meletakkan dasar atau basis bagi perasaan. Dan mengatakan seperti apa itu sebuah emosi berarti menyertakan perasaan atas situasi bersifat eksplisit, atau di dalam istilah-istilah saat ini, impor situasi adalah sebagaimana kita mengalaminya’ (Taylor, 1985, Human Agency and Language, Philosophical Papers 1: hal. 49).

Secara lengkap, Taylor menyimpulkan ide ini di dalam lima klaim:

‘1. bahwa beberapa emosi kita menyertakan impor-anggapan/askripsi;

2. bahwa beberapa impor ini adalah subjek-rujukan (subject-referring);

3. bahwa perasaan-perasaan subjek-rujukan kita adalah dasar pemahaman kita mengenai apa itu menjadi seorang manusia;

4. bahwa perasaan-perasaan ini dibentuk oleh artikulasi-artikulasi yang kemudian kita menerimanya; dan

5. bahwa artikulasi-artikulasi ini, di dalam mana kita bisa berfikir merupakan penafsiran yang membutuhkan bahasa’ (Taylor, ibid, hal. 76).

Teori bahasa dan makna ini menimbulkan konsekuensi-konsekuensi filosofis. Pertama, tidak ada kebenaran absolut di dalam aliran ini, sebab apa yang kita temukan dari penafsiran yang dipertentangkan adalah sebuah kebenaran parsial, yang dapat dimodifikasi atau bahkan dipertentangkan oleh pembacaan berikutnya. Kebenaran parsial merupakan sebuah kebenaran dari penafsiran tertentu, sebuah kebenaran dari subjek tertentu, di dalam sejarah dirinya atau wahananya didasarkan kepada jaringan maknanya sendiri. Kedua, karena Taylor menekankan analisa interpretasi-diri, maka tidak ada netralitas di dalam teori manusia semacam ini. Taylor tidak percaya bahwa ilmu tentang manusia dapat dibangun dengan menafikan kepentingan-kepentingan, baik kepentingan dari pengamat mau pun dari yang diamati.

Lebih jauh, dapat dikatakan bahwa hermenetika Taylor percaya kepada partikularisme atau kontekstualisme yang disebabkan pemuliaan dirinya atas perbedaan-perbedaan budaya. Partikularisme atau kontekstualisme di dalam pemahaman Taylor berada di luar perdebatan antara subjektifitas dan objektifitas atau antara holisme dan individualisme. Makna bukan lah sesuatu yang individual, meski pun kita mendapatkannya dari seorang pelaku, sebab makna datang dari jaringan sosialnya. Meski pun begitu, hal ini berbeda dari objektifitas, sebab makna yang ditemukan adalah makna yang didasarkan kepada sebuah jaringan budaya yang khas. Untuk itu, Rabinow menjelaskan bahwa ‘partikularisme dan kontekstualisme bukan lah subjektif atau pun objektif tetapi apa yang terdapat di belakang keduanya’ (Rabinow, 1979: hal.6).

Akhirnya Taylor tidak percaya terhadap pendapat mengenai hubungan sebab-akibat. Dia menegaskan bahwa bahasa untuk tindakan dan perasaan adalah kaya serta berada di dalam hubungan-hubungan yang pasti dan meski pun kita membicarakan hubungan-hubungan di antara hasrat-hasrat dan tindakan-tindakan, situasi-situasi dan emosi-emosi, tetapi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan huubungan sebab-akibat (Taylor, 1970: hal.86).

Meski pun jelas bahwa Taylor tidak hanya sekedar mengkritisi kecenderungan filsafat Barat dan ilmu sosialnya, tetapi lebih lanjut dia membangun sebuah teori baru tentang manusia melalui teori bahasa dan makna-makna sebagai dasar analisanya. Meski dia menyadari bahwa teori ini adalah suatu proses yang terus berkembang tetapi (projek tersebut sepenuhnya belum selesai) ada beberapa akibat penting terhadap teori politik kontemporer.

Akibat-akibat terhadap Teori Politik Kontemporer

Lebih jauh, Taylor mencoba menggunakan hermenetika-kuat di dalam ilmu politik. Dia mempertanyakan dasar-dasar pandangan positivisme tradisional di dalam menganalisa perilaku politik. Arus utama ini menggunakan sebuah standar gerak empirisisme logis dengan membedakan proses penemuan dari logika verifikasi. Melalui pemahaman ilmuan mengenai makna, mereka kemudian menyusun kuesioner dan menguji tingkah-laku orang berdasarkan makna-makna mereka sendiri dan kemudian menemukan korelasi-korelasi di antaranya. Ini sepenuhnya merupakan sebuah  proses milik peneliti dan bebas dari penafsiran dari objek yang dipelajari. Cara ini merekonstruksi realitas (sehingga menghancurkan lingkaran hermenetika) melalui satu data mentah yang dipercaya atau data yang tidak bisa dipertentangkan. Mereka juga dapat mengaplikasikan data mentah untuk menjelaskan perilaku politik dengan menyamakan makna-makna melalui induksi atau deduksi. Kita juga dapat mengklasifikasi sebuah tindakan memilih melalui keyakinan bahwa para pemilih mempunyai peradaban yang aman, demokrasi atau orientasi-orientasi politik lainnya tetapi kita tidak memiliki pemahaman mengenai apa makna semua hal tersebut terhadap para aktor atau lebih jauh mengapa para pemilih memutuskan untuk memilih dalam kaitannya untuk mengamankan orientasi-orientasi tersebut. Bagi Taylor, ilmu hermenetika dapat membantu kita menyediakan alasan yang jelas mengenai konsep dimana suatu kerancuan masih bertahan (Taylor, 1985, Philosophical Papers 2: hal.32-35).

Kesalahan yang sama juga terjadi ketika pendekatan ini dipakai ke dalam perbandingan politik. Sebuah kesalahan klasik terjadi di dalam studi-studi perbandingan politik dimana ilmuan seringkali menggambarkan sistem-sistem menjadi sama dengan yang kita miliki. Sebut lah konsep tentang demokrasi, ketika pendapat tentang demokrasi bisa jadi sepenuhnya berbeda di berbagai negara yang diberikan label. Negara-negara atau masyarakat-masyarakat yang berbeda boleh jadi memiliki konsep yang berbeda mengenai makna proses demokrasi, prosedur-prosedur dan lembaga-lembaganya. Karenanya, merupakan suatu kesalahan besar bila menyusun satu penelitian dengan menggunakan konsep kita sendiri untuk memahami dan menjelaskan konsep dari objek yang diteliti.[2]

Di dalam hubungan dengan perbandingan politik, dengan mengambil kasus India, Taylor juga ingin menjelaskan bagaimana budaya politik Barat tidak bisa diperbandingkan dengan India. Praktek masyarakat Barat saat ini, sebagiannya dibentuk oleh defenisi-defenisi teori atomis-intsrumentalis yang telah menyajikan apa yang disebut sebagai ilmu sosial politik yang bebas dari konteks budaya dan sejarah. Kegagalannya lebih dikarenakan ketiadaan relatif dari pemikiran tradisional India menyangkut defenisi mereka sendiri mengenai apa itu politik, praktek-praktek yang di dalam mana orang berkontribusi, secara kooperatif mau pun melalui perjuangan, untuk membentuk suatu cara di mana kekuasaan dan otoritas dijalankan di dalam kehidupan mereka (Taylor, 1985, hal. 131-133).

Cara pandang ini berakar dari bagaimana Taylor mendefenisikan rasionalitas ketika dia menentang formulasi rasionalitas Barat-modern yang didasarkan kepada superioritas teknologi dan mencoba membuat sebuah penilaian atas rasionalitas suku Azande di Afrika. Bagi Taylor setiap kegiatan manusia memberikan nilai rasionalitas di dalam pemikirannya sendiri (Taylor, 1985, hal. 134-151).

Taylor menentang kecenderungan konsep umum di dalam perbandingan politik dengan mengatakan:

‘Superioritas satu pihak atas pihak lain akan terkandung di dalam ini, yakni dari posisi yang lebih mampu seseorang bisa memahami pendiriannya sendiri dan pendirian pihak lawannya, tetapi tidak bisa sebaliknya. Hal ini terjadi tanpa mengatakan bahwa argumen ini hanya dapat memiliki bobot bagi orang-orang yang berada di posisi superior’ (Taylor, 1985, Ibid: hal).

Oleh karena itu, menjadi jelas pula mengapa Taylor secara tegas menolak pendapat absolutisme. Baginya, keragaman budaya dan latar belakang sejarah dapat memiliki berbagai konsep mengenai apa itu negara dan bagaimana negara harus didefenisikan.

Dia meminjam pengalaman integrasi politik di Kanada dimana Quebec-Perancis bisa ditiadakan. Menurut Taylor, hanya dengan penerimaan perbedaan-perbedaan budaya lah nasionalisme Kanada dapat dipelihara. Lebih jauh, karena legitimasi berada di tangan negara yang hampir selalu tidak bisa menangkap berbagai aspirasi masyarakat, maka penguatan masyarakat sipil menjadi sangat penting (Taylor, 1995: hal. 203). Melalui kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi masyarakat sipil maka aspirasi-aspirasi tertentu diekspresikan dan dinyatakan, kemudian diterima sebagai satu bagian dari proses pembuatan kebijakan negara. Kemudian, Taylor menjelaskan konsep masyarakat sipil yang independen dari negara, berbeda dengan konsep yang mirip yang dibangun oleh kaum Leninis melalui partai pelopor. Dia juga mengkritisi asosiasi-asosiasi buruh di beberapa negara Eropa seperti Swedia dan Jerman yang terintegrasi ke dalam negara (Taylor, 1990: hal. 204-208). Ia kemudian menambahkan bahwa ‘masyarakat sipil di mana pun mereka bersatu di dalam asosiasi-asosiasi secara signifikan dapat mengatur atau mempengaruhi kebijakan-kebijakan negara’ (Taylor, 1995: hal. 208).

Tentu saja ide ini membutuhkan kondisi-kondisi bebas tertentu di dalam ruang publik yang menjamin perbedaan-perbedaan (politik penerimaan/pengakuan).[3] Lebih jauh Taylor membayangkan sebuah masyarakat liberal meski pun kemudian menegaskan  bahwa ia memiliki suatu defenisi yang berbeda dengan defenisi yang difahami kaum liberal-prosedural. Ini sesuatu ‘yang mencoba menyadari di dalam tingkat kemungkinan tertinggi hal-hal baik tertentu atau prinsip-prinsip hak asasi. Kita bisa  memikirkannya sebagai upaya memaksimalkan issu-issu kebebasan dan pengaturan-diri kolektif, di dalam hubungannya dengan hak-hak asasi yang dibangun  di atas kesetaraan’ (Taylor, 1995: hal. 258).

Di dalam perdebatan mengenai liberal dan komunitarian, Taylor peduli terhadap kecenderungan partisipasi yang dijalankan di dalam model liberal-prosedural yang berfokus kepada hak-hak asasi individu. Dia juga mengkritisi model yang diorganisasikan di dalam birokrasi negara.[4]

Lebih jauh dia mengatakan:

Model prosedural tidak akan cocok untuk masyarakat sebab mereka tidak bisa menyatakan netralitas di antara semua nilai-nilai kehidupan yang baik. Suatu masyarakat seperti Quebec didedikasikan untuk mempertahankan dan mempromosikan budaya dan bahasa Perancis, bahkan jika sekali pun harus membatasi kemerdekaan individu. Pemikiran ini tidak bisa membuat orientasi kultural-linguistik sebagai suatu yang semata-mata bukan soal yang penting. Sebuah pemerintahan yang menafikan persyaratan ini tidak akan merespon kehendak mayoritas atau akan merefleksikan suatu masyarakat yang secara mendalam mengalami demoralisasi yang mendekati kehancuran. Dalam kasus lain, prospek demokrasi liberal tidak akan cerah (Taylor, 1995: hal. 203).

Lebih jauh, untuk dapat menjaga konsep negara yang mampu menerima semua perbedaan budaya, demokrasi liberal tidak cukup jika hanya dimaknai sebagai konsep pemisahan kekuasaan. Ia harus diletakkan di dalam konsep desentralisasi dimana ide pengaturan diri sendiri lebih dimungkinkan. Di samping itu Taylor secara jelas menyatakan bahwa keutamaan peran masyarakat sipil dimana partisipasi politik dari berbagai masyarakat dapat dikembangkan sebab hampir setiap saat tidak terwakili di dalam proses pengambilan keputusan oleh negara melalui perwakilan (Taylor, 1991: hal. 258-259).

Penilaian terhadap hermenetika-kuat (strong hermeneutics) dari Taylor dengan mempertimbangkan kritik Habermas atas hermenetika

Ilmu-ilmu hermenetika dan Teori Kritis dari Mazhab Frankfurt pada dasarnya berangkat dari kehendak yang berbeda di dalam menurunkan filsafat Barat-modern dan filsafat bahasa. ‘Keseluruhan strategi yang diadopsi Habermas adalah untuk mendapatkan kembali projek modernitas melalui satu bentuk filsafat bahasa yang terspesialisasikan dengan sangat tinggi, satu bentuk yang agaknya akan melakukan secara persis apa yang tidak bisa dilakukan di dalam konteks yang lebih tua mengenai filsafat kesadaran’ (Rasmussen,1990: hal.17)

Habermas melihat bahasa bukan sesuatu yang bersih dan bukan bentuk yang idealistik sebagaimana Taylor mengasumsikan, tetapi juga lebih sebagai media dominasi dan kekuatan sosial. Argumentasinya, sebagaimana dikutip Thomson secara gamblang menyatakan:

‘Bahasa juga merupakan suatu medium dominasi dan kekuatan sosial. Bahasa melegitimasi kekuatan yang terorganisasikan. Sejauh sebagai legitimasi hubungan-hubungan kekuasaan, yang pelembagaannya membuat mereka mungkin, tidak diartikulasikan, sejauh hal ini hanya mengekspresikan diri mereka sendiri di dalam legitimasi tersebut, maka bahasa adalah juga ideologis’(Habermas, Knowledge and Human Interest, hal.287).

Karenanya, Habermas dengan tegas menyatakan pentingnya tindakan komunikatif dan strategi tindakan komunikasi. Dia juga menegaskan suatu moral universalisme bertentangan dengan sebuah kontekstualisme hermenetika (Rasmussen, 1990, hal. 97). Ini semua dilakukan di dalam hubungan dengan upaya-upaya membangun sebuah ilmu pengetahuan rekonstruktif dengan filsafat kritis (ideologi-kritik). Suatu kombinasi tugas dari dua agenda besar, yakni projek modernitas dan filsafat bahasa untuk membangun teori-teori empiris dengan klaim-klaim universalistik yang kuat. (Rasmussen, 1990: hal. 96-97).[5]

Habermas menulis di dalam bukunya Knowledge and Human Interest:

‘Sebaliknya, ilmu-imu hermenetika-kesejarahan (historical-hermeneutic), yang peduli dengan ranah dari hal-hal yang fana dan pendapat belaka, tidak dapat dihubungkan dengan tradisi ini secara lancar – mereka tidak mau tahu dengan kosmologi. Tetapi mereka juga mengandung suatu kesadaran ilmiah yang didasarkan pada model ilmu pengetahuan. Bahkan untuk makna simbolik dari tradisi terlihat mampu dibawa bersama di dalam satu kosmos fakta-fakta di dalam keserempakan yang ideal. Kebanyakan sebagaimana ilmu-ilmu budaya dapat memahami fakta-fakta mereka melalui pemahaman dan meski pun mereka dapat memperhatikan hukum-hukum penemuan yang bersifat umum, namun mereka berbagi dengan ilmu-ilmu analisis-empiris kesadaran metodologis untuk menjelaskan suatu realitas terstruktur di dalam cara pandang perilaku teoritis’ (Habermas, 1987: hal. 303)

Jadi, bagi Habermas, sama halnya dengan filsafat tradisional, hermenetika-hermenetis secara terang-terangan menyembunyikan bahkan melarang hubungan antara kepentingan dan ilmu pengetahuan. Untuk ilmu-ilmu empiris-analitis, kepentingan utama diletakkan sebagai sebuah kepentingan kognitif teknis yang membentuk teori-teori yang berisikan pernyataan-pernyataan hubungan hipotetis dan deduktif mengenai realitas empiris dan realitas sebagaimana juga di dalam pengetahuan prediktif mereka. Kemampuan teknis eksploitatif juga muncul di dalam ilmu-ilmu hermenetika-hermenetis yang dicapai melalui eliminasi pemahaman pendahuluan subjek pada tingkat awal sebelum teks dan klarifikasi-diri (self-clarifying) menuju petunjuk pemahaman (teks) yang lain (Habermas, 1987: hal. 303-304). Karenanya, menurut Habermas, hermenetika juga memiliki masalah yang sama dengan memotong kepentingan kognitif melalui cara lain (Smith, 1997, hal. 25).

Teori Kritis, sebagaimana Habermas usulkan adalah untuk mendiskusikan kepentingan kognitif praktis dibandingkan kepentingan kognitif teknis yang diusulkan oleh dua pendekatan sebelumnya, sebab pencapaian konsensus yang mungkin di antara para aktor di dalam kerangka sebuah pemahaman diri diturunkan dari tradisi. Pendekatan ini juga memperhatikan refleksi ideologi dengan mempertimbangkannya di dalam suatu tingkah laku yang kritis dimana ‘informasi mengenai hubungan hukum sebab-akibat (lawlike) menyusun sebuah proses refleksi di dalam kesadaran kepada siapa hukum-hukum itu ditujukan’ (Habermas, 1987: hal.310). Pendekatan ini ’melepaskan subjek dari ketergantungan atas kekuatan-kekuatan hipotetik’ (Habermas, 1987: hal. 310). Sebagaimana Habermas katakan, ‘Refleksi diri ditentukan oleh kepentingan kognitif yang emansipatoris. Secara kritis ilmu-ilmu yang diorientasikan memberikan kepentingannya kepada filsafat.’ (Habermas: 1987: hal.310-311)

Pada saat ini, ilmu sosial kritis memainkan peran psikoanalitis refleksi-diri dengan menempatkan hubungan ilmu pengetahuan oleh kepentingan manusia di dalam otonomi dan tanggung jawab (mundigkeit) kepada subjek yang disembunyikan oleh objektifisme dan illusi mengenai teori murni (Habermas, 1987: hal. 311). Dia sunggu peduli terhadap mediasi subjek dan objek, yang akhirnya diproduksi oleh kepentingan. Sayangnya, kepentingan ini tidak secara serius dipertimbangkan oleh ilmu hermenetika Taylor atau oleh hermenetika-kuat lainnya. Mereka terjebak untuk memperlihatkan ‘kemampuan untuk mengontrol teknis monologis’ (Smith, 1997: hal. 25).

Hermenetika-kuat, di dalam upaya mengatasi masalah ini, memperkenalkan hermenetika-refleksi ‘yang merupakan refleksi atas apa yang disebut kebajikan yang membuat seorang penafsir mampu mendapatkan sebuah pemahaman tentang suatu teks yang pada awalnya tidak dikenal (sebab secara historis dan budaya berjarak)’ (Smith, 1997: hal. 26).  Gadamer misalnya, sebagai salah seorang teoritisi hermenetika-kuat menegaskan bahwa interaksi dialogis yang murni antara pembawa tradisi (penafsir dan yang ditafsirkan) melalui sebuah fusi horison-horison akan menyingkap sebuah kebenaran sebagai tujuan dari penafsiran. Sebab melalui proses penafsiran yang terlihat dari hermenetika-refleksi, baik penafsir mau pun yang ditafsirkan secara timbal-balik ditransformasikan ke dalam suatu tata-cara yang tidak sewenang-wenang, mujarab secara praktis, kebenaran yang terungkap (Smith, 1997: hal. 27).

Sebaliknya, Habermas kuatir terhadap universalitas hermenetika-refleksi ini. Berdasarkan penekanannya kepada linguistik, partisipatori, karakter dialogis untuk menemukan sebuah pemahaman dan batasan-batasan menangkap makna tindakan sosial dari sudut pandang ilmiah sang peneliti, dia tidak mampu menerima pandangan bahwa hermenetika refleksi adalah universal di dalam ruang lingkupnya. Dia melihat bahwa refleksi diikat oleh tradisi-tradisi serta prasangka-prasangka situasi hermenetika dimana struktur dominasi dan hubungan kekuasaan dilegitimasi oleh tradisi-tradisi ini. Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, dia mengusulkan pemahaman yang indah sebagaimana dia mengatakannya di dalam karya terdahulu mengenai hermenetika mendalam atau hermenetika kecurigaan. Tidak hanya ada penafsiran-penafsiran, menurut Habermas, tetapi juga supra-linguistik yang menyebabkan gangguan di dalam hermenetika refleksi (Smith, 1997: hal. 28)

‘Horison-horison aktual dari penafsiran-diri bisa menyembunyikan dan mengganggu tatanan yang benar dari normatifitas yang memberikan dasar bagi kritik pokok terhadap ‘ilmu pengatahuanisme’ yang pada dasarnya memotivasi hermenetika-kuat’ (Smith, 1997: hal. 29). Karenanya, Habermas menambahkan konsep etika diskursus yang dapat merekonstruksi dan membangun dasar bagi validitas dari klaim-klaim normatif (Smith, 1997: hal. 30). ‘Etika-etika  diskursus melakukan konsolidasi keyakinan bahwa norma-norma yang mengatur etika individu dan kelompok akan tegak atau sebaliknya rubuh oleh prinsip moralitas yang secara rasional mengikat’(Smith, 1997: hal.30).

Etika diskursus karenanya menentang jenis-jenis historisisme di dalam teori moral – yakni terhadap formulasi-formulasi pandangan yang berbeda bahwa prinsip-prinsip adalah valid hanya kepada beberapa konteks sejarah yang khas dari beberapa komunitas budaya tertentu. Dalam hal ini, pendapat tersebut menentang tidak hanya hermenetika-kuat tetapi juga hermenetika-lemah (Smith, 1997: hal. 30).

Kemudian, berbeda dengan pendekatan tradisional, etika-etika diskursus menempatkan sebuah konsep dunia kehidupan, yang sebagai suatu keseluruhan adalah kebal dari revisi total. Dunia kehidupan, sebagaimana Habermas menempatkannya, adalah suatu horison yang kurang lebih tersebar, selalu tidak bermasalah, keyakinan-keyakinan dengan latar belakang. Lebih lengkap, dia menjelaskan konsep dunia kehidupan sebagai berikut:

‘Dunia kehidupan adalah, sisi transedental dimana pembicara dan pendengar bertemu, dimana mereka secara timbal-balik dapat mengangkat klaim-klaim bahwa ungkapan-ungkapan mereka cocok dengan dunia (objektif, sosial atau subjektif), dan dimana mereka dapat mengkritisi serta mengkonfirmasi validitas klaim-klaim, menyelesaikan ketidaksetujuan mereka serta untuk mendapatkan kesepakatan-kesepakatan. Di dalam sebuah kalimat: para partisipan tidak bisa mengasumsikan in actu berjarak yang sama dalam berhubungan dengan bahasa dan budaya sebagaimana di dalam hubungan dengan totalitas fakta, atau pengalaman yang berkaitan dengan pemahaman timbal balik yang mungkin’ (Habermas, The Theory of Communicative Action, hal. 126)

Habermas, pada tataran ini setuju bahwa:

‘di dalam pemahaman struktur pokok hermenetikanya disusun guna menjamin, di dalam tradisi-tradisi budaya, tindakan yang mungkin berorientasi pemahaman diri di antara individu-individu dan kelompok-kelompok yang berbeda sebagaimana juga pemahaman timbal-balik di antara individu-individu dan kelompok-kelompok. Hal ini memungkinkan bentuk consensus yang tidak berbatas dan jenis intersubjektifitas yang dalam hal mana tindakan-tindakan komunikatif bergantung’(Habermas,The Theory of Communicative Action: hal.176).

Meski pun begitu, ilmu-ilmu hermenetika sebagaimana mana pandangan Taylor dibatasi oleh batasan-batasan medium pokok bahasa. Taylor tidak mempertimbangkan supra-linguistik yang bisa membawa gangguan di dalam proses ini. Menurut Habermas, ketiadaan supra-linguistik menyebabkan mereka kehilangan analisa yang mendalam atas fenomena sosial. Nyatanya, bahasa itu sendiri bergantung kepada proses-proses sosial yang secara alamiah sepenuhnya bersifat linguistik. Dia bahkan mengatakan bahwa bahasa juga sebuah medium dominasi dan kekuatan sosial dan bahasa adalah juga bersifat ideologis. Jadi, dia menolak pemikiran hermenetika yang melihat bahasa bersifat idealistik dan bersih dari supra-linguistik (Smith, 1997: hal. 29).

Kesimpulan

Taylor dengan pendekatan hermenetikanya berpendapat bahwa naturalisme memandang manusia di dalam perspektif atomisme sementara varian pendekatan hermenetika Taylor mau pun yang lain melihat manusia di dalam organisme. Karenanya, jika kita mendiskusikan budaya politik misalnya, pertanyaannya bukan lah menyangkut orientasi individu tetapi didasarkan kepada perspektif organisme, di mana kita akan menempatkan makna-makna bersama yang melekat di dalam lembaga-lembaga dan praktek-praktek.

Di dalam konteks ini, pada dasarnya Taylor meninggalkan perdebatan antara ‘holisme dan atomisme’ seperti yang kita fahami di dalam sebuah perdebatan panjang mengenai struktural-fungsionalisme/institusionalisme serta rational choice (individualisme). Meski pun di satu sisi dia masih mengakui pengaruh yang kuat dari struktur-sruktur dan norma-norma, dia juga mengakui kemampuan actor di dalam merespon struktur-struktur dan norma-norma tersebut di dalam kerangka kerja hubungan ‘Aku’ dan ‘Kita’. Sebuah makna bersama itu sendiri bukan lah semata-mata sebuah rangkaian konsensus yang terberikan (a given set of consensus) tetapi lebih sebagai sebuah hasil proses interaktif dimana ‘Aku’ juga memiliki kecakapan untuk menyertakan kepentingan di dalam hubungan dengan ‘Kita’.[6]

Meski pun model-model naturalisme seringkali mengkonseptualisasikan kehidupan dan tindakan manusia di dalam bahasa ilmu pengetahuan yang terstrukturkan atau bahasa ilmiah, tetapi naturalisme sebagaimana Taylor katakan adalah lebih dari sebuah pandangan mengenai bahasa ilmu pengetahuan. Hal ini bahkan meluas kepada sebuah pemahaman mengenai pelaku atau aktor, meski pun tidak memadai. Naturalisme di dalam pemikiran ini gagal mengenali suatu gambaran yang penting mengenai pemahaman tentang aktor manusia, seseorang atau diri (self). Mereka hanya meletakkan manusia sebagai sebuah objek untuk dipelajari, dikonseptualisasi, dijelaskan dan bahkan diprediksikan secara eksploitatif dengan menggunakan legitimasi bahasa ilmiah. Mereka menafikan manusia sebagai pelaku-pelaku yang sepenuhnya cakap, yang memiliki dinamikanya sendiri. Satu cara untuk mendapatkan penggambaran mengenai penafsiran-diri. Manusia-manusia sebagaimana didefenisikan oleh pendekatan hermenetika, termasuk hermenetika Taylor memiliki beberapa pemahaman (yang boleh jadi kurang lebih juga merupakan kesalahfahaman) diri mereka sendiri, tetapi sebagian dibentuk oleh pemahaman (Taylor, 1985: hal. 3)

Walau pun begitu, idenya berbeda dari pandangan neo-institusionalisme yang memoderasi struktur, norma-norma dan aktor manusia. Taylor menolak pandangan mengenai kausalitas dimana tindakan-tindakan diasumsikan diatur oleh norma-norma dan struktur atau di sisi lain individu semata-mata mengembangkan struktur dan norma-norma. Struktur-struktur, norma-norma, nilai-nilai bukan merupakan faktor-faktor efek penyajian, mereka lebih sebagai suatu dasar analisa di mana individu selalu merujuk mereka, diatur oleh mereka dan mempengaruhi mereka. Sebaliknya, individu tidak dapat difahami secara independen atau terpisah dari kehidupan sosial dan rujukan mereka.

Ini sejalan dengan pemikiran Taylor yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang berbicara dimana bahasa memiliki peran yang pokok di dalam artikulasi. Bahasa sebagai satu bagian dari norma memiliki strukturnya sendiri, sebagai suatu alat bagi manusia mengekspresikan kemenjadiannya. Dengan memahami bahasa, kita mengerti apa di balik tindakan manusia, baik motif, kepercayaan-kepercayaan, tujuan-tujuan dan lain-lain yang mendorong tindakan mereka. Meski pun begitu, karena bahasa berbeda dari yang satu dengan yang lain yang memiliki kosa katanya sendiri dan independen, maka tidak terbantahkan bila kemudian Taylor terjebak ke dalam kebenaran non-absolut, bersifat partikularistik, atau bahkan relatifistik, meski untuk bagian yang terakhir ini dia menolak.

Sebagai akibat dari pemikiran ini, adalah jelas bahwa Taylor telah jatuh ke dalam partikularisme dan kontekstualisme. Penolakannya atas generalitas, kebenaran absolut (yang lebih tepat disebut sebagai kebenaran umum atau regularitas) dan ilmu perbandingan yang didasarkan pada konsep umum mengundang berbagai kritik dari ahli yang lain, bahwa pemikiran Taylor mengandung relatifisme atau setidaknya partikularisme. Kritik lain kepada Taylor dan terhadap hermenetika kuat adalah bahwa hermenetika tersebut terlihat sebagai ide yang konservatif. Sementara ide hermenetika-refleksi (utamanya dikembangkan oleh Gadamer, seorang pendukung hermenetika-kuat lainnya), menurut para Teoritisi Kritis, semacam Habermas, tidak mampu menjelaskan realitas di luar hubungan internal, sehingga dengan begitu klaim universal dari hermenetika membingungkan.

Di balik kritik-kritik terhadap Taylor tersebut dan kepada hermenetika-kuat lainnya, dia tetap melanjutkan pengembangan pemikiran-pemikiran politik yang dia yakini. Pemikiran politiknya tentang masyarakat sipil semakin meyakinkan bahwa dia menolak superioritas konsep politik yang sepihak. Dengan menghadirkan pluralitas dan keragaman budaya, defenisi dan penafsiran politik yang berbeda akan mungkin diterapkan ke dalam budaya dan sejarah masyarakat yang berbeda. Karena itu, dia menolak studi perbandingan yang didasarkan kepada konsep-konsep umum tertentu yang kemudian diuji ke dalam masyarakat lain. Menurut Taylor perbedaan-perbedaan tersebut tidak bisa diperbandingkan.

Berkenaan dengan moralitas universal yang diusulkan Habermas, Taylor menolaknya. Menurutnya, masalah ini tidak relevan di dalam partikularisme. Pemikiran ini hanya bersifat normatif dan mengerikan sebab setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengusulkan moralitas mereka sendiri. Ada satu perbedaan yang besar di dalam memandang modernitas, dimana Taylor ingin meninggalkannya sementara di sisi lain Habermas justru ingin mendapatkan kembali modernitas tersebut.[7]

Akhirnya, jika Habermas lebih menyukai program-program tertentu seperti egalitarianisme, hak-hak asasi universal, demokrasi radikal, mendukung gerakan sosial baru, yang disajikan di bawah rubrik ilmu rekonsruktif (Rasmussen, 1990: hal.4), maka Taylor cenderung kepada pemikiran komunitarian.

Bibliography

Gibbon, M, eds, (1987) Interpreting Politics (New York: Basil Blackwell Inc.)

Habermas, J (1987) Knowledge and Human Interests, (Cambridge: Polity Press)

__________ (1987) The Theory of Communicative Action, Volume 2 (Cambridge: Polity Press)

McCarthy, T (1978), The Ciritical Theory of Jurgen Habermas, Hutchinson, London.

Outhwaite, W (1987) New Philosophies of the Social Sciences: Realism, Hermeneutics and Critical Theory (London: Macmillan)

_____________(1990) ‘Hans-Georg Gadamer’ in Q. Skinner (ed.) Return of Grand Theory in The Human Sciences, (Cambridge: Cambridge University Press)

Rabinow, P and Sullivan WM, (1979), Interpretive Social Science: A Reader (Barkeley: University of California Press)

Rasmussen, D (1990) Reading Habermas (Oxford: Basil Blackwell Inc.)

Smith, NH (1997), Strong Hermeneutics: Contingency and Moral Identity (London: Routledge)

Taylor, C (1970) ‘Explaining Action’ Inquiry,13, pp. 54-89

________ (1985) Human Agency and Language, Philosophical Papers 1 (Cambridge: Cambridge University Press)

________ (1985) Philosophy and The Human Sciences, Philosophical Papers 2 (Cambridge: Cambridge University Press)

________ (1987), ‘Language and Human Nature’ in Interpreting Politic (ed.) MT. Gibbons, Basil Blackwell Ltd

________ (1991) The Ethics of Authencity (Harvard: Harvard University Press)

________ (1995) Philosophical Arguments (Harvard: Harvard University Press

________ (2002) ‘Language and Society’ in Rasmussen DM and Swindal J (eds) Jurgen Habermas Vol. IV (London: SAGE Publications Ltd.)

Thomson, JB (1981), Critical Hermeneutics, A Study in the thought of Paul Ricoeur and Jurgen Habermas (Cambridge: Cambridge University Press)


[1] Lihat Taylor, 1987, hal. 5

[2] Lihat juga Taylor, 1995, hal. 200-203

[3] Lihat tulisan Taylor berjudul The Politics of Recognition in Philosophical Argument, 1995

[4] Lihat Taylor di dalam tulisan Cross-Purposes: The Liberal –Communitarian Debate, in Philosophical Argument, 2002

[5] Lihat juga Rasmussen, 1990, hal. 4

[6] Lihat Taylor, 2002, hal. 128

[7] Lihat Taylor, 2002: hal. 130-131

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: