jump to navigation

Evaluasi Kelebihan-kelebihan Analisa Diskursus July 27, 2010

Posted by taufandamanik in Uncategorized.
trackback

Tulisan ini akan mendiskusikan analisa diskursus, dimana sebagai sebuah pendekatan penelitian, analisis ini telah berkembang dengan cepat sejak 1980-an, baik di dalam penelitian-penelitian politik khususnya mau pun di dalam ilmu sosial lain pada umumnya. Meski pun begitu, karena analisa jenis ini sangat beragam dan terbagi sangat luas, maka tulisan ini hanya memilih beberapa contoh analisa diskursus, termasuk lah analisa diskursus sebagaimana yang diperkenalkan oleh Teun van Dijk. Saya juga akan memasukkan satu studi tentang teks sebagai bagian dari analisa diskursus, yang saya diskusikan, di samping bahasa lisan (spoken language), baik teks-teks dan bahasa lisan atau perbincangan, yang disebut sebagai bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, studi mengenai teks adalah bagian dari analisa diskursus, sebagaimana juga perbincangan dan bahasa di dalam penggunaan lainnya.

Dengan memberikan beberapa contoh dari analisa diskursus dan analisa diskursus kritis (Critical Discourse Analysis), tulisan ini akan mendiskusikan kelebihan-kelebihan analisa ini serta perdebatan dan evaluasi terhadapnya. Sebelumnya, tulisan ini akan menjelaskan teori diskursus sebagai latar belakang teoritis sebelum mendiskusikan masalah utama yang disebutkan di awal, yakni mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai analisa diskursus. Ide Laclau dan Mouffe, mau pun ide Howarth sendirian (atau dengan istrinya Norval dan Stravrakakis) sebagaimana juga Silverman dan Wetherell akan digunakan untuk menggambarkan kerangka teoritisnya.

Akhirnya, saya akan mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kredibilitas, realibilitas, validitas dan kemampuan mengeneralisasi dari analisa diskursus, guna memperlihatkan kepada pembaca bagaimana analisa diskursus – sebagai sebuah pendekatan kualitatif -, ternyata juga mampu memperoleh dan meningkatkan kemampuan.

Apa itu teori diskursus ?

‘Teori diskursus mengasumsikan bahwa semua objek dan tindakan adalah penuh makna dan bahwa makna-makna objek dan tindakan dianugerahkan oleh sistem pengaturan-pengaturan yang secara historis bersifat khusus’ (Howarth, Norval dan Stravrakakis, 2000: hal.2). Setiap diskursus adalah kontruksi politik dan sosial, dimana posisi subjek dari pelaku menunjukkan dan memberikan makna terhadap objek dan praktek. Oleh karena itu, diskursus dan makna adalah contingent (bersifat tidak tetap), historis dan tidak pernah lengkap. Teori diskursus mencari bagaimana praktek-praktek sosial mengartikulasikan dan mempertentangkan diskursus yang membentuk realitas sosial (Howarth, Norval dan Stravrakakis, hal. 4-5).

Berbeda dengan Saussure yang fokus membahas diskursus hanya di dalam konteks bahasa pembicaraan (lisan),  Laclau dan Mouffe melihat bahwa bahasa percakapan dan teks-teks dan bahkan tindakan-tindakan serta objek-objek juga merupakan diskursus. Mereka menyebut semua dimensi tadi sebagai sebuah totalitas dan menyertakan aspek linguistik dan non-linguistik sebagai diskursus (Laclau dan Mouffe, 1987: hal. 100). Karena pernyatan ini bukan lah dimaksudkan sebagai ‘apa pun adalah diskursus’, maka di dalam pendekatan mereka, Laclau dan Mouffe menambahkan argumentasi bahwa objek material adalah sebuah keberadaan yang telanjang (a naked exixtence), meski pun tetap eksis,  akan penuh makna atau tidak bermakna di dalam pewacanaan (discursive) – berfungsi sebagai horison – yang dibentuk oleh pelaku atau manusia. Di dalam konteks ini, artikulasi manusia atas objek menciptakan makna, sebab manusia memiliki kategorisasi, pengetahuan, pemikiran atau nilai sosial yang mengartikulasikan objek-objek dan tindakan-tindakan. Jadi, diskursus adalah sebuah representasi atas objek, meski pun menurut Laclau dan Mouffe, artikulasi ini tidak pernah bisa menangkap seluruh dimensi objek dan tindakan. Oleh karena itu, diskursus akan selalu dipertentangkan, dibongkar, ditransformasikan dan senantiasa berubah sebagaimana perkembangan sosial.

Di dalam konteks dikursus, yang selalu tidak lengkap, dipertentangkan, dibongkar, Laclau dan Mouffe menghubungkannya dengan pemikiran Gramsci mengenai hegemoni. Berfokus kepada analisa dan kemudian beralih kepada diskursus hegemonik yang berhasil menjabarkan pertentangan sosial di dalam masyarakat yang spesifik di dalam konteks dan kesejarahan yang spesifik pula. Karenanya, adalah jelas di dalam pendekatan ini bahwa tidak semua aspek pewacanaan menjadi perhatian penelitian tetapi hanya diskursus hegemonik, yang dominan di dalam masyarakat yang akan menjadi fokus perhatian. Howarth menjelaskan bahwa ‘teori diskursus dengan pemahaman dan penafsiran yang secara sosial membentuk makna-makna, lebih dari sekedar mencari penjelasan hubungan sebab-akibat yang objektif, dan ini berarti bahwa satu di antara tujuan-tujuan utama penjelasan sosial adalah menggambarkan peraturan-peraturan yang secara hitoris bersifat khusus dan konvensi-konvensi yang menstrukturkan produksi makna di dalam konteks kesejarahan yang khusus’ ( Howarth, 2000: hal. 128).

Karenanya, teori diskursus dimaknai sebagai upaya menguji struktur-struktur khusus di mana pelaku-pelaku sosial membuat keputusan dan mengartikulasikan projek hegemonik serta pembentukan pewacanaan. Teori diskursus menolak penggabungan peristiwa empiris ke dalam hukum universal (kausalitas atau covering model), sebaliknya memperhatikan ‘bagaimana, di dalam kondisi-kondisi apa dan untuk tujuan-tujuan apa, diskursus dibentuk, dipertentang dan berubah’ (Howarth, 2000, hal. 131).  Lebih jauh, teori diskursus ingin melihat bagaimana pengalaman dislocatory (keterbelahan) diformulasikan sebagai pertentangan sosial yang kemudian direspon sebagai impian bersama atau “collective imaginaries” oleh kelompok tertentu di masyarakat, di dalam konteks kesejarahan yang khusus. Oleh karena itu, teori diskursus menegaskan bahwa kebenaran dan kesalahan yang bersifat umum tidak bisa diterapkan sebab proses pembentukan dan pembentukan kembali (kontruksi dan rekonstruksi) tergantung kepada posisi subjek, yang bersifat relatif terhadap standar-standar yang dibentuk oleh sistem pengetahuan yang khusus. Wittgeinstein mengatakan bahwa ‘kebenaran dan kesalahan pernyataan dibentuk di dalam tatanan-tatanan diskursus (atau paradigma) yang menggunakan kriteria yang dibuat oleh tatanan-tatanan itu sendiri (Howarth, 2000: hal. 133).

Ide ini didukung oleh Silverman dengan mengambil contoh studi teks (bagian dari analisa diskursus) dimana studi ini tidak mencari hubungan dengan realitas atau untuk mengkritisi dan menguji teks-teks tertentu agar mempunyai standar objektif. Meski pun begitu, ‘Studi ini lebih kepada menganalisa bagaimana diskursus-diskursus bekerja untuk mencapai efek-efek khusus – untuk mengidentifikasi elemen-elemen yang digunakan dan fungsi-fungsi yang diperankan’ (Silverman, 2001: hal. 121-122).

Kemudian Howarth, Norval dan Stravrakakis menjelaskan bahwa ‘analisa diskursus merujuk kepada praktek menganalisa bahan-bahan mentah empiris dan informasi sebagai pembentukan pewacanaan. Ini artinya bahwa analis diskursus memperlakukan data-data linguistik mau pun non linguistik – pidato-pidato, laporan-laporan, manifesto-manifesto, wawancara-wawancara, peristiwa-peristiwa sejarah, ide-ide, bahkan organisasi-organisasi serta lembaga-lembaga – sebagai teks-teks atau tulisan’ (Howarth, Norval dan Stravrakakis, 2000: hal. 4).[1]

Begitu pun, dengan beberapa variasi penelitian yang dilakukan, maka analisa diskursus, menurut Silverman – dengan mengutip Potter:

‘…memiliki suatu komitmen analitis untuk melakukan studi diskursus sebagai teks dan percakapan di dalam praktek sosial….fokusnya adalah….pada bahasa sebagai…media interaksi; analisa diskursus kemudian menjadi, analisa mengenai apa yang seseorang lakukan. Suatu tema yang secara khusus ditekankan di sini adalah retorika dan organisasi argumentatif dari perbincangan dan teks; klaim dan versi dibentuk untuk menggali alternatif-alternatif’ (Silverman, 2000: hal. 179).

Evaluasi kelebihan-kelebihan analisa diskursus

1. Kekayaan analisa diskursus

Spektrum analisa diskursus sangat lah kaya. Analisa diskursus dapat membongkar realitas sosial dan struktur sosial melalui studi bahasa di dalam penggunaan (Language in Use), terutama dari interpretasi subjek atau pelaku/agensi manusia, tetapi sebagaimana Howarth, Norval dan Starvrakakis katakan, analisa ini juga dimungkinkan dengan menggunakan berbagai aspek linguistik dan non-linguistik sebagai objek penelitian (Howarth, Norval dan Stravrakakis, 2000: hal. 4; Jaworski dan Coupland, 1999, hal. 6).

Banyak contoh di bawah ini akan memperlihatkan sederetan luas masalah-masalah penelitian, metode-metode, teknik-teknik seperti juga halnya tentang bahan-bahan mentah sebagai objek penelitian yang digunakan di dalam analisa diskursus. Semestinya terdapat lebih banyak contoh-contoh yang tersedia. Meski pun begitu dengan alasan ruang yang terbatas, mengambil beberapa contoh-contoh saja sudah cukup kuat untuk mengilustrasikan keragaman dan kekeyaan analisa diskursus.

Studi Norval mengenai Dekonstruksi Diskursus Apartheid (Deconstructing Apartheid Discourse) menjelaskan bagaimana projek apartheid mampu menghegemoni “lapangan diskursifitas” di Afrika Selatan meski pun analisa berbagai elemen yang membentuk diskursus apartheid dengan satu pandangan guna menemukan tata bahasa pokok dan modus operandi. Norval memiliki sebuah survei sejarah propaganda National Party, sebuah analisa mengenai pidato-pidato kaum pergerakan Afrika, dan sebuah pertimbangan dokumen-dokumen kunci yang resmi, misalnya berbagai komisi-komisi pencarian/penyelidikan, yang menyediakan kerangka intelektual bagi munculnya program apartheid. Dengan melakukan analisa diskursus (di dalam hal ini dengan menggunakan logic of difference dan logic of equivalence), Norval telah mampu menunjukkan perkembangan dan perluasan pewacanan kelompok-kelompok identitas nasional Afrika, dari waktu ke waktu. Norval juga ‘menyediakan sebuah interpretasi baru mengenai diskursus apartheid, yang menguji ulang teori-teori dan data-data empiris’ (Howarth, 2000: hal. 138).[2]

Sementara, analisa diskursus kritis (CDA) sebagaimana didefinisikan oleh Teun van Dijk melakukan studi tentang bagaimana kekuasaan dan dominasi diproduksi, direproduksi dan dipelihara untuk mempertahankan ketidakadilan sosial dan ketidaksetaraan. Dengan mengambil contoh debat parlemen Inggeris tahun 1895, Perancis di tahun 1986 dan Jerrman di tahun 1991-92, diskursus rasialisme telah dipertahankan elit-elit partai dengan dukungan media. Dia menyimpulkan bahwa kekuasaan dan dominasi kelompok-kelompok dijalankan melalui kontrol atas akses diskursus. Melalui studi kasus ini, dia menjelaskan bagaimana seorang pembicara benar-benar berkuasa, misalnya elit-elit partai politik, mengujicobakan kekuasaan mereka untuk mengontrol akses diskursus dan bagaimana mereka menjustifikasi dan melegitimasi tindakan tententu melalui manipulasi pendapat umum, biasanya dengan menggunakan media massa.  Di dalam konteks ini, van Dijk membedakan antara pembuatan undang-undang, ekspresi atas legitimasi terhadap dominasi (dominance) di dalam (produksi dari) berbagai struktur teks dan percakapan di satu sisi, dan di sisi lain fungsi-fungsi, konsekuensi-konsekuensi atau hasil-hasil struktur tertentu bagi (sosial) pemikiran penerima. Jadi, dengan menggunakan Critical Discourse Analysis, Van Dijk dengan sempurna membongkar pola bagaimana kekuasaan dan struktur dominasi di dalam memperkuat rasialisme melalui proses pembentukan dan pemeliharaan pewacanaan rasialisme, ketidakadilan dan ketidaksetaraan di dalam masyarakat. Dia juga berhasil membuktikan bahwa terdapat kerjasama antara kekuasaan politik dan media di dalam mereproduksi rasialisme (van Dijk, 1993: hal. 249-281).[3]

Contoh lain adalah dari studi Lain Berman terhadap anak jalanan di Yogyakarta, Indonesia. Studi mengenai kisah-kisah hidup anak jalanan dapat menggambarkan proses produksi identitas yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di dalam sebuah dunia penolakan, perampasan (deprivasi), dan kekerasan. Berman mendemonstrasikan bagaimana posisi subjek repertoar anak-anak dibentuk di dalam hubungannya dengan struktur kekuasaan jalanan melalui mana kekerasan dapat secara kondisional ditafsirkan bersama sebuah skala akseptabilitas. Dia mengambil cerita-cerita anak jalanan dari sebuah bulletin “Jejal”, yang diterbitkan sebuah NGO, Yayasan Humana dan dari anak-anak (aktor). Dengan mendengarkan kisah-kisah anak jalanan, dia bisa membongkar “keunikan perspektif anak-anak” sebagaimana juga proses-proses dimana anak-anak mengembangkan pemahaman mengenai konflik. (Berman, 2000:  hal. 149-151).

Studi ini berhasil menggambarkan keunikan perspektif anak-anak, sebagaimana juga menghindari   ketidakpastian Van Dijk yang melihat kelemahan CDA (barangkali juga terjadi terhadap analisis diskursus yang lain) terhadap kecenderungan memberikan perhatian lebih kepada hubungan-hubungan “atas-bawah” dari kekuasaan dibandingkan hubungan-hubungan “bawah-atas” dari perlawanan (van Dijk, 1993: hal. 250). Sebab, studi Berman secara sukses menghadirkan perspektif anak jalanan (sebagai korban) atas kekerasan yang mereka sedang alami dan bagaimana mereka menemukan strategi menghadapi kekerasan tersebut.[4]

Analisa diskursus dapat juga bergerak di dalam sebuah studi tentang pembuatan kebijakan. Herbert Gottweis misalnya, menjalankan studi perbandingan mengenai pembuatan kebijakan Kebijakan Sel Inti di Amerika Serikat dan Jerman. Dengan latar belakang sejarah dan sistem hukum yang berbeda maka kebijakan-kebijakan yang dibuat juga berbeda. Gottweis menyimpulkan bahwa pembuatan kebijakan di dalam wilayah semisal pengaturan sel inti membantu mempertajam pemahaman bahwa analisa kebijakan tidak mesti berangkat dari sesuatu yang pasti, telah tersedia dan di dalam dunia yang stabil (dunia politik, ekonomi, masyarakat dan badan) tetapi mesti mengasumsikan bahwa fenomena sosial, politik serta alam dan secara terpisah dari hal-hal tadi – makna-maknanya – secara konstan bergerak, berubah dan bertukar di berbagai arah (Gottweis, 2002: hal. 445-446).

Sementara Wetherell mengambil contoh dialog Lady Diana di dalam sebuah stasiun TV yang menggambarkan bagaimana Diana mengkonstruksi diskursus mengenai diri, pasangan dan perkawinannya, keluarga kerajaan, politik, gender didasarkan kepada posisi-posisi subjeknya. Dengan contoh ini, Wetherell berpendapat bahwa analisa diskursus memiliki implikasi penting terhadap studi pemikiran-pemikiran, tentang diri dan pembuatan alasan. Di dalam konteks posisi subjek seorang Diana, peneliti tidak akan bertanya mengenai validitas dan realibilitas proses pembuatan alasan dari Diana, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Diana melakukan proses pembentukan alasan dan bagaimana ia menyajikannya kepada publik sehingga menjadi sebuah diskursus, sebagai sebuah versi Diana mengenai topik yang ia bicarakan (Wetherell, 2001: hal. 14-27)

Wetherell juga mengumpulkan berbagai analisa diskursus seperti studi Gergen mengenai sejarah hidup dan hubungannya dengan masalah ras; studi Gumperz tentang komunikasi antar-etnis dan studi Stuart Hall mengenai keterwakilan sejarah dari “pihak lain (otherness)” dimana keduanya dihubungkan kepada masalah identitas. Lebih jauh, Wetherell juga mengambil contoh studi Foucault mengenai perkembangan pengobatan dan kehadiran klinik untuk menjelaskan bagaimana keseluruhan aparat, termasuk mesin-mesin, pakaian-pakaian, sistem kekuasaan, teknik-teknik untuk memanipulasi badan-badan, bentuk-bentuk aristektur serta catatan yang dikembangkan. Diskursus sebagai suatu proses pembentukan makna, menurut Foucault akan bergantung kepada rejim epistemik, yakni teori ilmu pengetahuan yang mengorganisasikan episode keseluruhannya (Wetherell, 2001: hal. 381-392).[5]

Kekayaan penelitian/analisa diskursus juga disebabkan bahwa momen-momen atau peristiwa-peristiwa tertentu bisa dikaji dari segi yang berbeda tergantung kepada perspektif teoritis dan cara pandang peneliti. Schegloff mengatakan bahwa sebuah momen perbincangan misalnya, dapat dilihat dari berbagai sudut yang berbeda, baik dari kategorisasi rasial “hitam dan putih”, dari hubungan anak dan orang tua, atau didasarkan kepada kelas sosial dan di dalam perspektif organisasional, di dalam area tertentu. Ini dapat diperluas dengan menambahkan dimensi-dimensi geografis, sejarah dan sosial-politik. Masalahnya adalah apakah konteks sosial yang melingkupinya bisa relevan atau tidak untuk menekankan situasi dari momen percakapan tersebut (Wetherell, 2001: hal. 388-389).[6]

Jadi, analisa diskursus tidak hanya beragam di dalam soal tema-tema dan segi-segi penelitian, tetapi juga di dalam menyeleksi bahan-bahan baku penelitian. Analisa diskursus juga beragam di dalam memformulasikan pertanyaan-pertanyaan penelitian, metode investigasi, termasuk juga beragam menyangkut tujuan-tujuan penelitian. Subjek peneliti di dalam konteks ini dapat melakukan penafsiran atas penafsiran yang dibuat oleh objek penelitian.[7]

Keragaman ini dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Keragaman di dalam bahan baku penelitian misalnya bisa melahirkan kesulitan di dalam menjustifikasi seleksi bahan-bahan baku sebagai data penelitian. Karenya, kita harus secara benar memformulasikan kerangka teoritis untuk membimbing pertanyaan penelitian dan lebih jauh melalui pertanyaan penelitian, kita bisa menyeleksi data. Oleh karena itu, diskursus juga membutuhkan dukungan dari tradisi-tradisi lain di dalam penelitian, bahkan dari survei kuantitatif (Jaworski dan Coupland, 1999, hal. 36).[8]

Para peneliti selalu memulai dari teori diskursus yang mereka yakini. Formulasi pertanyaan penelitian didasarkan pada kerangka teoritis (pra-penafsiran) dan mereka memutuskan dari segi mana fenomena sosial akan dilihat. Dalam hal ini, fenomena sosial adalah teks-teks atau percakapan-percakapan (bahasa yang digunakan), baik di dalam rekaman atau transkrip, atau bahkan di dalam film dan rekaman-rekaman lain, sebab bahasa diasumsikan sebagai perwakilan realitas sosial. Berbeda dengan kaum positivis atau naturalis yang selalu dibimbing teori; para peneliti analisa diskursus lebih bebas memformulasikan segi dan pertanyaan penelitian termasuk juga problematisasinya (permasalahan penelitian). Meski pun begitu, hasil penelitian harus dicatat sebagai sebuah versi penafsiran atas penafsiran. Karena itu, akan lebih berguna bila menyebut hasil sebuah penelitian sebagai satu versi pembacaan atas fenomena sosial. Komunitas peneliti lah yang kemudian memutuskan apakah versi tersebut dapat diterima atau tidak sebagai sebuah hasil penelitian ilmiah tentang topik penelitian tertentu. Meski pun begitu, hasil penelitian adalah penting sebagai sebuah pekerjaan ilmiah mengenai fenomena sosial bahkan versi pembacaan ini dapat menggantikan pembacaan-pembacaan sebelumnya, sebagaimana Norval telah melakukannya untuk pewacanaa apartheid.

Analisa diskursus juga bisa menjelaskan bagaimana proses hegemoni terjadi, bagaimana garis batas politik (political frontier) dibentuk di dalam konteks tertentu serta bagaimana mereka dirubah ke dalam konteks sejarah lainnya. Dengan kata lain, analisa diskursus bisa melihat proses perubahan-perubahan dan pembentukan identitas politik dari suatu kelompok tertentu. Dengan menggunakan bahan-bahan baku, teks-teks atau percakapan-percakapan, bahkan kadang-kadang kombinasi kedua bahan, analisa diskursus mampu menjelaskan bagaimana aktor-aktor sosial memformulasikan pertentangan sosial, bagaimana mereka menghegemoni ranah pewacanaan suatu masyarakat, bagaimana aktor-aktor melakukan pendekatan (di dalam bahasa Wetherell yakni memenangkan hati dan pikiran orang-orang).[9]

Sebaliknya, dengan menggunakan CDA kita dapat melihat bagaimana sebuah diskursus direproduksi dan dipertahankan dengan menggunakan kekuasaan dan dominasi. Dalam hal ini, struktur kekuasaan, sebagaimana struktur bahasa yang digunakan akan dibongkar dan tentu saja kita bisa memprediksikan diskursus-diskursus yang mungkin menentangnya. Dalam konteks ini, jika analisa empiris diasumsikan mampu melihat hubungan sebab-akibat, sebaliknya analisa diskursus mampu menemukan hubungan internal. Di sini, sistem sosial diasumsikan bersifat relasional sebagaimana juga bahasa diasumsikan bersifat relasional.[10]. Lebih lanjut, analisa diskursus juga mampu melihat posisi subjek, keunikan mereka di dalam menanggapi dan merekonstruksi objek atau peristiwa di luar.

Masalah lanjutannya akan berkaitan dengan issu-issu kredibilitas, realibilitas, validitas serta kemampuan mengeneralisasi dari analisa diskursus. Evaluasi kelebihan-kelebihan analisa diskursus penting untuk menjelaskan seberapa masuk akal pendekatan ini di dalam menjelaskan dan memahami fenomena sosial dan karena itu akan memutuskan tingkat pengaruhnya di dalam metode penelitian dan ilmu sosial secara umum.

2. Masalah-masalah kredibilitas, realibilitas, validitas dan kemampuan mengeneralisasi

Pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah yang disebutkan di atas adalah sangat penting di dalam sebuah penelitian. Wetherell mulai mendiskusikan keterlibatan politis (political engaged) dari peneliti sebab peneliti diskursus, sebagaimana dikatakan van Dijk mengambil satu sikap sosio-politik yang terang dengan menyebutkan pandangan mereka, prinsip, dan tujuan mereka, baik di dalam bidang disiplin mereka mau pun di dalam masyarakat luas. Di dalam CDA, target-target penting adalah elit-elit kekuasaan yang memutuskan kebijakan, melanjutkan, melegitimasi, membenarkan atau melupakan ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial. Jadi, menurut Van Dijk, peneliti diskursus harus menjadi seorang kritik sosial lebih dari pada bertindak sebagai seorang pengamat yang netral (Wetherell, 2001: hal. 383).[11] Meski pun begitu, van Dijk dan Fairclough menolak setiap ide yang sederhana menyangkut ideologi sebagai ide-ide yang salah dibandingkan dengan ilmu pengetahuan revolusioner. Sebab apa yang diambil dari Marxisme sangat kuat dan melibatkan visi komitmen politik serta ide bahwa intelektual di dalam sebuah masyarakat selalu berada di pihak kaum tertindas. Jadi, kelompok analis/peneliti memiliki sebuah visi yang dipakai sebagai sebuah kekuatan aktif di dalam masyarakat dan politik untuk memproduksi pengetahuan guna menyelesaikan ketidakadilan dan ketidaksetaraan, tidak hanya untuk sebuah karir (Wetherell, hal. 384-385). Oleh sebab itu, kita, sebisa mungkin, mengistimewakan pandangan kaum tertindas dan bekerja berdasarkan etika yang teraplikasikan.[12]

Di dalam konteks ini, hal yang lebih penting adalah menekankan seberapa jauh diskursus memiliki hubungan dengan dunia nyata dan bagaimana analisa diskursus dapat menjelaskan dunia realitas sosial. Masalahnya kemudian adalah apakah proses dan hasil penelitian memiliki kredibilitas. Jika, misalnya, kita menjalankan studi tentang gender dan menempatkan pengalaman-pengalaman perempuan sebagai bahan-bahan penelitian, maka ‘tujuan penelitian bukan lah mengakumulasi pengetahuan, tetapi mendukung emansipasi perempuan’ (Silverman, 2000, hal. 221).  Peneliti-peneliti tidak hanya menempatkan sikap politik mereka dan membuat sebanyak-banyaknya keterlibatan intensif personal mereka, tetapi mereka harus memvalidasi pengalaman-pengalaman perempuan ini melalui kriteria tertentu untuk penelitian evaluasi.

Jika kredibilitas ilmiah, sebagaimana dikatakan Karl R. Popper harus dinyatakan oleh rasionalisme kritis, maka analisis diskursus (sebagaimana penelitian kualitatif lainnya) juga mesti bisa menempatkan bukti-bukti ilmiahnya untuk diuji dengan memfalsifikasi asumsi-asumsi saat ini atas data-data yang kita miliki. Jadi, analis selalu yakin bahwa pengetahuan kita selalu bersifat sementara, tidak pasti (uncertainty), perlu diuji dalam melalui penelitian berikutnya, yang bisa jadi menghasilkan bukti yang berbeda. Hammersley juga menambahkan bahwa realitas harus diasumsikan sebagai sebuah klaim independen dan dipandang melalui perspektif khusus. Karenanya, hasil penelitian kita merepresentasikan realitas, bukan mereproduksinya. Dalam pandangan ini, konsep utama kredibilitas penelitian ilmiah adalah validitas dan realibilitas (Silverman, 2000, hal. 224-225).

Kemudian Hammersley mengatakan bahwa realibilitas penelitian ilmiah merujuk kepada tingkat konsistensi dengan mana contoh-contoh diberikan untuk kategori yang sama dari peneliti-peneliti lain untuk tujuan penelitian yang berbeda. Kirk dan Miller membedakan tiga hal menyangkut realibilitas, yakni, realibilitas angan-angan (quixotic), realibilitas berdasar sejarah (diakronik) dan realibilitas selaras (sinkronik). Di dalam realibilitas angan-angan (quixotic), suatu keadaan di dalam sebuah metode pengamatan terus-menerus meletakkan sebuah pengukuran yang tetap, tetapi realibilitas semacam ini dapat menjadi tak bermanfaat dan salah kaprah. Sebuah respon yang dapat diduga di dalam wawancara misalnya, tidak mesti berhubungan dengan apa yang orang katakan dan lakukan di dalam konteks yang berbeda. Sementara realibilitas diakronik mengasumsikan bahwa realibilitas pengamatan adalah stabil. Realibilitas sinkronik, sebaliknya menekankan kesamaan pengamatan di dalam periode yang sama (Silverman, 2000: hal. 225-226).

Silverman menolak asumsi bahwa realibilitas hanya lah satu kepedulian yang dimiliki penelitian kuantitatif. Pendapat kalangan positivis mengenai realibilitas meyakini bahwa dunia alamiah dan sosial adalah sama, karenanya dunia yang digarisbawahi (diperhatikan) dapat direplikasi/diulang. Sebaliknya, penelitian kualitatif/interpretatif percaya bahwa dunia alamiah berbeda dengan dunia sosial, yang selalu berubah dan karena itu kita tidak bisa mengasumsikan adanya sifat-sifat yang tetap di dalam dunia sosial. Meski pun tidak berarti bahwa pendekatan ini tidak memiliki suatu kepedulian menyangkut realibilitas. Silverman mengutip Clive Seale mengenai “low-inference descriptors” di dalam kaitannya dengan tingkat realibilitas.[13] Salah satu caranya adalah dengan meminimalkan rekonstruksi peneliti terhadap logika umum mengenai data yang diambil yang akan mempengaruhi tingkat realibilitas laporan penelitian. Jika di dalam pelaksanaan penelitian aliran positifistik realibilitas peng-kode diuji berdasarkan kesepakatan di antara sesama peng-kode, sebaliknya di dalam penelitian kualitatif kita tidak memerdulikan standarisasi atas penafsiran data. Dalam hal ini, meski data kita bersifat kompleks (data kita adalah teks-teks dan perbincangan-perbincangan), kita memiliki suatu akses yang bagus terhadap kata-kata dari subjek pelaku, sebab semua data sudah terekam dan ditranskrip. Jadi, kita tidak harus bergantung kepada ingatan si pewawancara, peng-kode, serta analis dan dengan begitu dapat memenuhi kriteria Seale mengenai penggunaan ‘low-inference descriptors’. Lebih jauh, data-data tekstual secara prinsip bersifat realiabel dari pada sekedar pengamatan.[14] Jadi, “low-inference descriptors” dapat diterapkan di dalam model penelitian ini guna mendapatkan realibilitas yang tinggi baik dengan membuat catatan lapangan yang distandarisasi dan menyiapkan transkrip atau dengan membandingkan analisa data yang sama yang dilakukan beberapa peneliti (Silverman, 2000: hal. 226-231).

Jika validitas diformulasikan sebagai seberapa akurat suatu hasil merepresentasikan fenomena sosial (tingkat kebenaran), maka kaum positivis mencatat dua kemungkinan kesalahan, yakni jika memercayai satu pernyataan sebagai benar tetapi di dalam uji statistik justru salah atau sebaliknya sebuah pernyataan diyakini salah tetapi di dalam uji statistik malah terbukti benar. Dengan kata lain, kesalahan terjadi disebabkan peneliti menerima sebuah korelasi yang keliru. Jadi, penelitian kuantitatif membuat standar yang kaku untuk menjaga kemungkinan korelasi yang keliru. Meski pun begitu, “apa yang orang katakan di dalam menjawab pertanyaan wawancara tidak memiliki suatu hubungan yang tetap dengan bagaimana mereka berperilaku di dalam situasi yang sungguh-sungguh terjadi’ (Silverman, 2000, hal. 232). Sebaliknya, penelitian kualitatif dapat membuat satu metode untuk memvalidasi responden, sementara untuk validitas analisa diskursus dapat ditingkatkan sebab penafsiran seorang peneliti selalu dipertentangkan dengan peneliti lain.

Silverman keberatan terhadap klaim bahwa hanya penelitian kuantitatif yang memiliki gudang senjata yang canggih untuk menilai validitas korelasi; bahwa validitas hanya bisa dicapai melalui data eksperimental, statistik resmi dan sampling acak; dan hanya data kuantitatif lah yang valid atau fakta-fakta sosial yang dapat digeneralisasikan. Dia bahkan berpendapat bahwa elemen-elemen data kuantitatif menafikan pengamatan data yang terjadi secara alamiah (dalam hal ini, penelitian kualitatif, termasuk analisa diskursus sangat kuat di dalam mengamati dan menangkap fakta). Apalagi, ‘terdapat wilayah realitas sosial, dimana statistik tidak bisa mengukurnya’ (Silverman, 2000: hal. 248)[15].

Jadi, sepanjang analis diskursus dapat menemukan kriteria tertentu atau kriteria lain yang dibuat komunitas peneliti, maka validitas dapat dicapai dan ditingkatkan. Validitas, menurut Taylor, adalah suatu konsep yang kompleks dan ‘menyertakan aspek-aspek seperti koherensi logis, kelahiran temuan-temuan dan perspektif-perspektif baru, kemasukakalan, keterkaitannya dengan penelitian sebelumnya dan lain-lain’ (Wetherell, 2000, hal. 395). Sementara itu, Jaworski dan Coupland menghubungkan validitas relatif kepada tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran mereka (biasanya untuk mendemonstrasikan proses pembentukan makna dan membentuk penafsiran yang kaya atas peristiwa-peristiwa diskursus lokal).

Menurut Jaworski dan Coupland, teoritisi diskursus menentang pendapat yang mengatakan pendekatan ini cenderung lebih mendekati kesementaraan, lebih bergantung kepada konteks, lebih bersifat tidak tetap, dan lebih toleran terhadap ambiguitas, namun pendekatan ini justru memiliki kemungkinan suatu visi yang sangat jelas, khususnya bagaimana bahasa menyerap masalah-masalah manusia. Meski pun, analisa diskursus tetap potensial memiliki ‘suatu kekeliruan di dalam menghubungkan metoda analitis dan penafsiran data di daalam istilah-istilah distribusional’ (Jaworski dan Coupland, 1999: hal. 37).[16]

Sementara itu, Howarth menolak sebuah klaim bahwa metode studi kasus (analisa diskursus selalu berbasis kasus) adalah bias terhadap sebuah konsepsi khusus dari verifikasi, yakni, kecenderungan untuk mengkonfirmasi atau membenarkan pemikiran-pemikiran yang dibuat peneliti sebelum penelitian dan karena itu tidak sesuai untuk pengujian ilmiah. Menurutnya, kasus-kasus kritis cenderung menampilkan suatu bias yang lebih besar terhadap falsifikasi dibandingkan metode lain. Di dalam studi-studi kasus yang mendalam, analis biasanya melaporkan bahwa pra-konsepsi mereka dan asumsi-asumsi mereka diuji oleh karya mereka, yang mungkin lebih jauh dari metoda-metoda yang tetap dijauhkan dari objek yang diteliti (Howarth, 2004: hal.16).

Menurut Howarth, meski analisa diskursus didasarkan kepada kasus, analisa ini tetap bisa mempunyai kemampuan mengeneralisasi. Hal ini akan bergantung kepada kemampuan peneliti di dalam memproblematisasikan fenomena dan di dalam sensitifikasi kompleksitas dan nuansa-nuansa realitas sosial. Dengan menganalisa berbagai kasus-kasus mendalam, para peneliti tidak hanya mengembangkan kemampuan dan intuisi mereka tetapi juga penting di dalam meningkatkan kemampuan mempelajari tata bahasa (grammar) dari teori diskursus. Sebaliknya, metode-metode lain (termasuk penelitian kuantitatif) yang mencari pengetahuan yang bebas-konteks, akhirnya tidak didasarkan di dalam kasus-kasus khusus, yang menghalangi pembelajaran. Flyvbjerg menyarankan, mengikuti falsifikasi Popper, studi-studi kasus dapat digunakan sebagai kasus-kasus penting untuk memfalsifikasi atau untuk mengkonfirmasi teori-teori dan merupakan alat-alat yang penting untuk pengujian serta membangun teori. Karenanya, Howarth dan Flyvbjerg menolak sebuah asumsi bahwa studi kasus memberikan sedikit saja kontribusi atas perkembangan ilmiah. Mereka juga menolak klaim bahwa studi kasus sangat berguna untuk melahirkan hipotesa-hipotesa, tetapi metode-metode lain lebih cocok untuk menguji hipotesa-hipotesa mau pun membangun teori. Bagi mereka, kasus-kasus penting, dan sebaliknya dapat diseleksi untuk membuktikan atau membatalkan teori dan hipotesa. Flyvbjerg menegaskan bahwa kasus-kasus ini membenarkan logika deduksi seperti ‘jika (tidak) valid untuk kasus ini, maka kemudian ia (tidak) berlaku untuk semua kasus’. (Howarth, 2004: hal. 15).

Silverman mengatakan bahwa pada dasarnya kemampuan mengeneralisasi adalah sebuah tujuan yang standar di dalam penelitian kuantitatif didasarkan kepada prosedur standar penggunaan sampling untuk membenarkan kita merasa yakin tentang prinsip keterwakilan sampel dan membenarkan kita pula untuk membuat kesimpulan yang lebih umum. Berhubungan dengan prosedur sampling statistik, Stake mengatakan bahwa kekhususan serta kelaziman studi kasus tidak memiliki upaya untuk mengeneralisasi melebihi kasus tunggal atau bahkan membangun teori. Meski pun, pendapat ini tidak disetujui oleh Jennifer Mason dengan argumen bahwa penelitian kualitatif melalui studi kasus menghasilkan penjelasan-penjelasan yang dapat digeneralisasi di dalam beberapa cara atau karena memiliki suatu gaung yang lebih luas. Silverman menegaskan bahwa kita bisa mendapatkan kemampuan mengeneraliasi dengan mencampurkan penelitian kualitatif dengan pengukuran-pengukutan kuantitatif atas populasi; dengan memiliki sampling purposif yang dipandu oleh waktu dan sumber-sumber; dan dengan menggunakan sampling teoritis. Silverman dan Miller telah mengaplikasikan pendekatan komparatif di dalam menjelaskan perbincangan mengenai hambatan-hambatan di dalam dua kejadian konseling: yakni pusat konseling hemofilia milik Inggeris dimana pasien yang positif HIV dan sebuah pusat terapi keluarga di Amerika Serikat. Di dalam studi ini, mereka memusatkan perhatian kepada kesamaan-kesamaan di dalam tiga jenis praktek pewacanaan: yang peduli dengan pengertian-pengertian mengenai hambatan, penyelesaian-penyelesaian hambatan dan konteks sosial hambatan-hambatan pasien. Pendapat ini didukung oleh Perakyla dengan mengatakan bahwa pendekatan perbandingan secara langsung menjawab pertanyaan tentang kemampuan mengeneralisasi dengan menunjukkan kesamaan-kesamaan serta perbedaan-perbedaan di dalam sejumlah keadaan. Jadi, hal yang penting di sini adalah bagaimana kita menggunakan metode-metode perbandingan yang membenarkan kita membuat klaim yang lebih luas menyangkut analisa kita tanpa meninggalkan kepustakaan. Kita harus berfikir secara kritis mengenai parameter populasi yang kita tertarik di dalamnya serta memilih sampel secara hati-hati berdasarkan basis ini. Lebih jauh, penggunaan sampling teoritis dapat memiliki lebih banyak hal untuk melahirkan teori-teori dibandingkan melalui generalisasi yang bersifat empiris (Silverman, 2001: hal. 249-250).

Kesimpulan

Kelebihan-kelebihan analisa diskursus terlihat dari keragaman di dalam memilih issu, pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions), titik fokus dan bahan-bahan baku serta metode/teknik penelitian. Karenanya, analisa jenis ini membutuhkan pendekatan multidisiplin dan latar belakang teoritis yang kompleks. Kekuatan pada saat yang sama dapat menjadi kelemahan jika analis kemudian gagal – dengan dukungan latar belakang teoritis – menghadirkan problematisasi dan mendesain pertanyaan-pertanyaan penelitian. Konsistensi di antara latar bekalang teoritis, formulasi masalah, pertanyaan-pertanyaan penelitian dan bahan data yang terseleksi akan membuat analisis diskursus mampu membongkar fenomena sosial, serta membuat hasil-hasil penelitian kredibel, valid dan terpercaya (reliable). Di samping itu, berkaitan dengan hasil penelitian yang diklaim sebagai khusus (unik/khas) dan bergantung kepada konteks serta bersifat historis, maka penelitian sebelumnya dapat difalsifikasi oleh penelitian-penelitian berikutnya. Temuan-temuan penelitian – selalu dipertentangkan, dibongkar, ditransformasikan dan berubah. Jadi, ilmu sosial diasumsikan selalu di dalam perkembangan, dinamis dan bukan sesuatu yang absolut mau pun sesuatu teori yang umum dan pasti. Sebagaimana realitas sosial, yang selalu berubah, maka ilmu sosial juga diasumsikan sebagai sesuatu yang terus berkembang.

Studi van Dijk mengenai diskursus rasialisme di Inggeris, Perancis dan Jerman misalnya dapat menyajikan sebuah kajian mengenai peran bahasa, bahasa yang digunakan masyarakat atau peristiwa-peristiwa komunikatif di dalam (re) produksi dominasi dan ketidaksetaraan di ranah politik Inggeris, Perancis dan Jerman. Sangat jelas terlihat bagaimana studi kasus dapat melakukan generalisasi, bahkan menyediakan penggambaran dan penjelasan yang lebih jauh dan lebih rinci mengenai bagaimana struktur sosial dan akses sosial dapat digunakan oleh struktur politik atau elit guna memanipulasi opini publik. Studi kasus mengenai diskursus sebagai mana digambarkan di atas (studi Norval mengenai apartheid, Berman mengenai anak jalanan, Watherell tentang  Lady Diana, Gotweiss mengenai kebijakan penelitian sel inti dan lain-lain) mendukung pendapat bahwa kemampuan mengeneralisasi dimungkinkan di dalam studi kasus atau penelitian kualitatif dan bahkan mampu menyediakan penjelasan dan penggambaran yang lebih jauh sebagaimana yang dihasilkan penelitian kuantitatif. Selanjutnya, analisa diskursus juga mungkin untuk membangun teori-teori atau sebaliknya untuk melakukan falsifikasi atas teori-teori sebagaimana diinginkan Karl R Popper. Ini merupakan suatu lingkaran ilmiah dimana komunitas ilmuan dan bahkan kaum tertindas atau objek dari sebuah studi dapat selalu memiliki diskursus atas diskursus.

Bibliography

Austin, JL, (1999), ‘How To Do Things With Words’, in A Jaworski and N. Coupland (ed), The Discorse Reader, (London: Routledge)

Berman, L. (2000), ‘Surviving on the streets of Java: homeless children’s narratives of violence’, Discourse and Society, 11:2, pp. 149-174.

Billig, M. (1999), ‘Critical Discourse Analysis and Conversation Analysis; an exchange between Michael Billig and Emanuel A. Schegloff’ Discourse Society, 10:4, pp. 543-558.

Bourdieu, P. (1999), ‘Language and Symbolic Power’, in A. Jaworski and N. Coupland (ed), The Discourse Reader (London: Routledge).

Dunford, R and Palmer, I (1998), ‘Discourse, Organizations and Paradox’, in D. Grant, T. Keenoy and C. Oswick (ed), Discourse and Organization (London: SAGE Publications).

Fairclough, N (1999), ‘Linguistic and Intertextual Analysis Within Discourse Analysis’, in A. Jaworski and N. Coupland (ed), The Discourse Reader (London: Routledge).

Flick, U. (1998), An Introduction to Qualitative Research,(London: SAGE Publications)

Foucault, M (1999), ‘The Incitement to Discourse’, in A. Jaworski and N. Coupland (ed), The Discourse Reader (London: Routledge).

Gottweis, H. (2002), ‘Stem Cell Policies in the United States and in Germany: Between Bioethics and Regulation’, Policy Studies Journal, 30:4, pp. 444-469.

Howarth, D. (2000), Discourse (Buckingham: Open University Press).

__________, (2004), ‘Applying Discourse Theory: The Method of Articulation’, An Unpblished Draft Paper.

Howarth D, Norval AJ and Stravrakakis Y (2000), Discourse Theory and Political Analysis: Identities, Hegemonies and Social Change,(Manchester: Manchester University Press).

Jaworski, A and Coupland, N (1999), ‘Perspective on Discourse Analysis’ in A. Jaworski and n. Coupland (ed), The Discourse Reader (London: Routledge).

King, G, Keohane, RO and Verba, S (1994), Scientific Inference in Qualitative Research, (Princeton, New Jersey: Princeton University Press).

Kress, G (2001), ‘From Saussure to Critical Sociolinguistic: The Turn Towards a Social View of Language’ in M. Wetherell, S. Taylor and SJ. Yates (eds), Discourse Theory and Practice, A Reader (London: SAGE Publications).

Laclau, E (1993), ‘Discourse’ in RE Goodin and P. Pettit (eds), A Companion to Contemporary Political Philosophy (Oxford: Blackwell).

Laclau, E and Mouffe, C, (1985), Hegemony and Socialist Strategy, Towards A Radical and Democratic Politics, (London: Verso).

Silverman, D (2001), Interpreting Qualitative Data, Methods for Analysing Talk, Text and Interaction, (London: SAGE Publications).

Van Dijk, T (1993), ‘Principles of Critical Discourse Analysis’, Discourse and Analysis, 4:2, 249-283.

__________, (1999), ‘Discourse and the Denial of Racism’ in A. Jaworski and N. Coupland (ed) The Discourse Reader (London: Routledge).

Wetherell, M (2001), ‘Themes in Discourse Research: the Case of Diana’ in M. Wetherell, S. Taylor and SJ. Yates, Discourse Theory and Practice (London: SAGE Publications).

___________ (2001), ‘Debates in Discourse Research’ in M. Wetherell, S. Taylor and SJ Yates (ed), Discourse Theory and Practice (London: SAGE Publications).


[1] Silverman mengkategorisasikan semua bahan-bahan sebagai repertoar, stake dan skrip (Silverman, 2000, hal. 179)

[2] Mengalisa diskursus seringkali membuat kesimpulan atas kesimpulan (Jaworski dan Coupland, 1999, hal. 13)

[3] Dalam hal ini, van Dijk percaya bahwa peneliti mau pun teoretisi tidak bisa netral, tetapi harus memiliki posisi politik tertentu untuk membela kaum tertindas atau melawan ketidakadilan dan ketidaksetaraan (van Dijk, 1993: hal. 252 ). Ini adalah penilaian awal (prejudge) tentang kebenaran moral di dalam banyak kasus. (Jaworski dan Coupland, 1999: hal. 6)

[4] Jika biasanya masalah anak-anak dipresentasikan oleh orang dewasa, Negara dan merupakan milik NGO, sekarang diskursus anak-anak atau korban (sebuah kelompok sub-kultgur yang bukan arus utama) dijadikan sebuah penelitian.

[5] Sementara yang lain melihat proses pembentukan makna dari aspek-aspek praktis sosial-budaya

[6] Laclau mengatakan bahwa ‘masyarakat dapat…difahami sebagai tekstur argumentatif yang sangat luas melalui mana orang membentuk realitas mereka’ (Laclau, 1993: hal. 341).

[7]Wetherell mengatakan bahwa ‘seluruh analisa diskursus adalah sebuah bangunan pewacanaan terhadap sebuah bangunan pewacanaan …’(Wetherell, 2001: hal. 397).

[8] Jaworski dan Coupland mengatakan bahwa ‘Diskursus oleh karena itu bukan lah suatu obat mujarab dan karena itu bisa cocok untuk beberapa tipe pertanyaan penelitian, tetapi tidak buat yang lainnya’ (Jaworski dan Coupland, 1999: hal. 36).

[9] Lihat Wetherell, 2001, hal. 27

[10] Silverman mengatakan bahwa di samping keterwakilan, bahasa juga bersifat relasional.

[11] Sebaliknya, menurut Schegloff cara pandang kritis ini tidak hanya jelek dari segi akademis (bad scholarship) tetapi juga jelek dari segi politis (bad politics), sehingga analis boleh jadi tidak pernah dikejutkan oleh data, bias potensial dan aktual sebab dunia telah diketahui dan telah memiliki pra penafsiran berdasarkan kepedulian peneliti (Wetherell, 2001: hal. 385).

[12] Berbeda dengan politisi dan aktifis, pemahaman struktural kita mensyaratkan pandangan-pandangan yang lebih umum dan kadang-kadang tidak langsung serta analisa sebab-akibat mendasar yang bersifat jangka panjang, kondisi-kondisi serta konsekuensi-konsekuensi tertentu. Dan berbeda dari kebanyakan ilmuan sosial, analis diskursus kritis ingin menyumbang suatu kontribusi yang lebih spesifik, yakni mendapatkan lebih banyak pandangan mengenai peran penting dari diskursus di dalam mereproduksi dominasi serta ketidaksetaraan (van Dijk, 1993, hal. 253).

[13] Low-inference descriptors dapat diartikan sebagai upaya meminimalkan masuknya unsur subjektifitas peneliti atau penafsir di dalam membuat kesimpulan sehingga tingkat kepercayaan atas hasil penelitian tetap bisa dipertahankan.

[14] Data tekstual adalah ranah publik dan ini sulit untuk dipalsukan. Isu realibilitas sekarang ini hanya mencuat melalui kategori-kategori yang kita gunakan di dalam menganalisa setiap data (Silverman, 2001, hal. 229).

[15] Kemudian, Silverman menawarkan lima cara validasi penelitian tertentu yakni induksi analitis, metode perbandingan yang konstan, analisa kasus-devian, perlakuan data komperhensif dan penggunaan tabulasi tepat guna (Silverman, 2001: hal. 248).

[16] Duranti menambahkan bahwa analisa diskursus persis seperti kerja seni, jadi produk linguistik kita secara konstan dievaluasi, didaur ulang atau dibuang. Metode dan perspektif berganda meningkatkan kemungkinan mencapai penjelasan-penjelasan yang baik (Jaworski dan Coupland, 1999: hal. 37-38).

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: